“Jangan Terjerumus Bocoran Soal UN”

SEMANGAT HADAPI UN: Wakil Walikota Depok, Idris Abdul Shomad memotivasi siswa menjelang Ujian Nasional, di Lapangan SMK Perintis Depok, kemarin

SEMANGAT HADAPI UN: Wakil Walikota Depok, Idris Abdul Shomad memotivasi siswa menjelang Ujian Nasional, di Lapangan SMK Perintis Depok, kemarin

POJOKSATU.ID, DEPOK – Menjelang Ujian Nasional (UN) yang dimulai Senin (13/4) hingga Rabu (15/4), Wakil Walikota Depok Idris Abdul Shomad memberikan motivasi kepada ratusan siswa SMK Perintis Depok, kemarin.

Idris berharap, siswa yang akan mengikuti UN tidak tegang, tetap fokus, dan berupaya jujur ketika mengerjakan soal. Meski UN tahun ini tidak menentukan kelulusan, Idris mengingatkan agar siswa tidak terjerumus terhadap bocoran soal UN.

“Tetap belajar dan lakukan yang terbaik,” kata Idris. Selain itu, ia mengimbau agar siswa tidak terjerumus bocoran soal. Hal itu disinyalir sebagai faktor kegagalan siswa dalam mengerjakan soal UN.

Menurutnya, siswa harus menanamkan keyakinan dalam mengerjakan soal-soal UN. Dan yang terpenting, menurut dia lagi, adalah doa dan ketenangan dalam mengerjakan soal-soal tersebut.

Ia melanjutkan, saat ini nilai UN bukan tolak ukur sukses atau tidaknya pada kehidupan seseorang. Apalagi, bukan faktor kelulusa siswa seperti tahun-tahun sebelumnya. “UN bukan ukuran sukses untuk kehidupan seseorang.

Seakan-akan kalau UN nggak berhasil dikehidupan hancur dan gagal,” ujarnya. Idris meminta, setiap siswa membuang jauh stigma negatif bahwa gagal UN, merupakan kehancuran masa depan. “Perlu diingat UN merupakan evaluasi selama belajar di sekolah.

“Perbanyak doa bersama untuk menenangkan hati,” ucapnya. Idris. Sama seperti harapan guru dan orang tua murid, Idris menginginkan seluruh siswa yang mengikuti UN di Depok bahkan di Indonesia, bukan hanya bisa lulus 100 persen. “Tapi, lulus dengan jujur 100 persen.

Itu yang terpenting. Jauhi bila ada isu bocor-bocoran yang tidak jelas,” terangnya.Diberitakan sebelumnya, UN memang menjadi momok yang sangat mengerikan bagi siswa yang saat ini duduk dikelas 9 dan 12 baik SMP/Sederajat maupun SMA/Sederajat.

Pasalnya, keberadaan UN dirasa memberi permasalahan terhadap dampak psikologis yang dialami oleh siswa di Indonesia. “Seakan-akan dibenak siswa, UN adalah sesuatu yang harus ditaklukan dan menjadi penentu utama berhasil atau tidaknya siswa dalam menempuh pembelajaran selama tiga tahun,” terangnya lagi.

(ham)

Feeds