Mahasiswa Asal Depok Selamat dari Konflik di Yaman

TERTUTUP : Rumah Wahyu, Mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di Yaman. Ia tinggal di kawasan Curug Agung, Beji. Sejumlah mahasiswa yang menuntut ilmu di Yaman tiba di Bandar Soekarno Hatta

TERTUTUP : Rumah Wahyu, Mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di Yaman. Ia tinggal di kawasan Curug
Agung, Beji. Sejumlah mahasiswa yang menuntut ilmu di Yaman tiba di Bandar Soekarno Hatta 

POJOKSATU.id, DEPOK – Memuncaknya konflik yang terjadi di Yaman membikin situasi di negara tersebut makin tak kondusif. Itu pula yang membuat Pemerintah Indonesia buru-buru mengevakuasi seluruh WNI (Warga Negara Indonesia) yang berada di Yaman.

Hingga Selasa (7/4), data dari Kementerian Luar Negeri menyebut sekitar 700 orang telah dipulangkan. Dan satu di antaranya merupakan seorang warga Depok. Ia diketahui bernama, Wahyu Setiawan Budiarto.

Wahyu merupakan Warga Jalan Sekasih Nomor 1 Curug Agung, Kecamatan Beji.“Nunggu (Wahyu) dari (Senin) pagi. Soal kepulangan dia, saya mulai tau waktu kontak-kontakan lewat whatsapp hari Minggu.

Ngabari mau pulang (ke Indonesia). Posisinya saat itu masih di Jizan (Daerah di Yaman)” ujar Ibu Wahyu yang enggan disebutnya namanya kepada awak media, Senin (6/4) malam. Ia mengatakan bahwa anaknya tersebut masuk dalam kloter kedua. Tergabung bersama 110 WNI yang dipulangkan. “Anak saya sampai sekitar jam 21:15,”tambah dia.

Ia bercerita bahwa setibanya datang, Wahyu membawa sebuah koper dengan atribut bendera Indonesia dan Yaman. Wahyu sempat mencium tangan ibunya dan berbicara singkat sebelum akhirnya masuk beristirahat.“Alhamdulillah Wahyu pulang dalam keadaan sehat wal’afiat. Selama ini sih Wahyu selalu memberikan kabar kondisi disana lewat Whatsapp pakai wifi.
Tadinya malah enggak mau pulang, tapi saya bilang lebih aman pulang saja sesuai arahan pemerintah Indonesia. Saya lega, tadinya sempat cemas,” ungkap ibunda Wahyu.

Dijelasnya ibunya, Wahyu belajar memperdalam syariat islam di daerah Makbar, perbatasan Sana’a dan Dhamar.Wahyu pulang dalam kloter kedua dengan total 110 WNI dan belum mengetahui kapan akan kembali ke Yaman.

“Saya berangkat dijemput dari wilayah Jizan. Selama ini enggak terlalu paham situasi di sana karena fokus mondok tidak tahu situasi detail. Tidak buka internet ataupun nonton televisi. Belum tahu juga kapan balik ke sana,” ujarnya singkat.Sementara itu, sebanyak 700 warga negara Indonesia (WNI) telah dievakuasi dari Yaman dan tiba di Indonesia.

Evakuasi dilakukan mengingat kondisi keamanan Yaman yang sudah tidak kondusif.”Sampai hari ini, kita sudah memulangkan warga kita sebanyak 700 orang,” tutur Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Kemlu, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat.

Retno merincikan, pemulangan yang dilakukan Kemlu sudah dijalankan semenjak Desember tahun lalu. “Kemlu sudah mengevakuasi bulan Desember sebanyak 332 orang, bulan Februari sampai Maret 148 orang, 5 April kemarin 110 orang dan 6 April 110 orang. Dengan demikian, sudah 700 warga kita tiba di Tanah Air,” papar Retno.

Untuk mempercepat evakuasi, pemerintah RI mengirimkan tim terpadu yang terdiri dari 43 personel meliputi unsur Kemlu (14 orang), TNI AU (21 orang), Polri (7 orang), dan BIN (3 orang) ke Yaman serta Salalah, Oman. Turut dikerahkan pula satu pesawat TNI AU Boeing 737-400 dan satu kapal yang disewa dari Djibouti untuk mempercepat evakuasi WNI.

Pemerintah RI berusaha mengevakuasi semua WNI dari Yaman, negara yang saat ini dilanda kekacauan luar biasa. Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi melarikan diri ke Arab Saudi karena aksi kekerasan pemberontak Houthi kian menjadi.
Karena hampir seluruh Sanaa dikuasai pemberontak, Presiden Hadi menyatakan Aden sebagai ibu kota sementara Yaman saat ini.

(bry)

Feeds