Bukan Mengandung Anak, Dua Perempuan di Cianjur Ini Perutnya Membesar

TAK BISA BERBUAT APA: Pipih mengaku sudah sudah tak sanggup menghadapi kondisi perutnya dan sudah pasrah hingga ajal menjemput (Foto kanan). Ida sehari-hari tak bisa kemana-mana dan menghabiskan waktu di kamar menonton televisi.

TAK BISA BERBUAT APA: Pipih mengaku sudah sudah tak sanggup menghadapi kondisi perutnya dan sudah pasrah hingga ajal menjemput (Foto kanan). Ida sehari-hari tak bisa kemana-mana dan menghabiskan waktu di kamar menonton televisi.

POJOKJABAR.com, CIANJUR – Sesak, letih dan penuh sakit. Itulah yang dirasakan dua perempuan Kabupaten Cianjur Ida Nurhasanah dan Pipih dengan kondisi perut besar melebihi orang mengandung. Keterbatasan anggaran membuat keduanya tak mampu berbuat apa-apa dan hanya bisa pasrah.

Ida Nurhasanah (43), warga RT03/RW02 Kampung Bojong, Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas ini sehari-hari hanya bisa terbaring dikamarnya. Yang bisa ia lakukan hanya menghibur diri dengan menonton televisi.

Namun saat sedang menonton pun, terkadang sesekali ia harus menahan sakit pada bagian perut yang terlihat seperti sedang hamil. Tak banyak aktivitas yang dilakukan karena untuk bergerak pun sulit. Segala sesuatunya mengandalkan bantuan dari dua oarangtua tercinta, Juju (55) dan Damawi (57) yang setia menunggunya sambil berjualan di warung kecilnya.

Penyakit yang diderita Ida sudah berjalan empat bulan lalu ketika bersama sang suami di Kota Hujan Bogor. Awalnya, gejala yang terjadi seperti akan haid dan sakit pada bagian pinggang. Ia hanya berpikir akan kembali mengandung karena sebelumnya pernah melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan dan tak pernah terpikir akan terkena sakit seperti saat ini.

“Sebelumnya dikira akan kembali mengandung karena pernah periksa ke dokter,” ujar Juju.

Namun kian hari, perut Ida semakin besar, hingga akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Karya Bhakti Bogor selama sepuluh hari dan dioperasi. Secercah harapan sempat hadir, Ida pun dinyatakan sembuh dan kembali menjalani aktivitas berjualan. Akan tetapi Ida kembali merasakan sakit dan memberi kabar kepada kedua orangtuanya untuk memutuskan tinggal di rumah.

Mendengar kabar tersebut, Juju sang ibu sempat hampir tak sadarkan diri, seakan tersambar petir di siang hari.

“Tak menyangka akan sakit lagi dan bahkan tidak punya firasat apa-apa, ketika mendengar kabar itu pikiran kosong namun disadarkan bapaknya,” terang Juju sembari menangis.

Beragam pengobatan dilakukan, dari medis hingga pengobatan alternatif. Diagnosa medis menyatakan bahwa Ida terkena tumor, namun lain diagnosa dari pihak pengobatan alternatif yang menyatakan Ida terkena liver atau hepatitis karena sering menunda makan.

Setiap malamnya Ida tak pernah tertidur dan terjaga karena sakit yang dirasakan sangat tidak bisa membuatnya untuk memejamkan mata. Namun karena kasih sayang seorang ibu, Juju rela menemani setiap malam meski rasa kantuk menjadi hambatannya. Juju pun sangat prihatin dari asupan makan Ida yang sedikit, Ida hanya makan satu sendok teh bubur atau tiga butir nasi.

“Makan cuma sedikit, tiga butir nasi atau satu sendok teh bubur sumsum aja,” jelasnya.

Ida pun sedikit bergerak ketika rasa sakit itu datang, ia merubah posisi duduk menjadi seperti akan merangkak menghadap lantai, karena posisi seperti itu bisa sedikit menghilangkan sakit yang dirasa.

Saat ini, Ida memiliki tiga orang anak yang tinggal di Bogor, dua orang putri dan satu orang putra yang akan menginjak bangku pendidikan Sekolah Menengah Atas. Dua orang kakaknya bekerja, terkadang ketika libur menyempatkan diri untuk menengok sang ibunda tercinta di kediaman neneknya.

Suami Ida saat ini sedang bekerja di salah satu tempat percetakan, dan bahkan terkadang apapun ia kerjakan untuk mengumpulkan dana demi kesembuhan istrinya.

“Kalau suaminya kerja di percetakan seperti undangan di Bogor, tapi kadang dia apapun dikerjakan juga seperti kemarin ada yang minta untuk membetulkan mesin cetak,” paparnya.

Juju mengaku, belum ada bantuan dari manapun untuk pengobatan Ida, Juju hanya berharap ada uluran tangan dermawan yang dengan ikhlas bisa membantu meringankan pengobatan anaknya ini.

“Saya selalu berdoa, semoga saja ada yang mau membantu meringankan untuk pengobatan anak saya, karena berbagai cara sudah kami lakukan dan selebihnya kami serahkan kepada Allah SWT,” harapnya.

Seorang perempuan dengan kondisi perut besar pun menimpa Pipih (37), warga RT04/RW01, Desa Simpang, Kecamatan Takokak. Pipih terkena penyakit kista dan sudah berjalan satu tahun.

Babinsa Simpang, Serka Iwan Irawan menjelaskan, Pipih merupakan seorang janda dengan lima anak. Ia tinggal bersama ibunya yang berusia 64 tahun. Sehari-hari, Pipih dan anaknya hanya bisa makan hasil dari belas kasih kerabat dan tetangga yang peduli.

Pipih tak mampu bergerak dan hanya duduk atau dibopong jika ingin berpindah tempat bahkan kesusahan ketika hendak ingin ke toilet. Ia berharap, adanya bantuan sehingga mendapatkan pengobatan serta penindakan pengangkatan penyakit yang menggèrogoti tubuh Pipih.

“Saya kemarin sudah cek dan mau ditindaklanjuti tuk proses pengobatannya, cuma bingung harus mengadu kemana dan sama siapa. Dia (Pipih) sudah pasrah menunggu ajal menjemput,” ucap Serka Iwan.

(radar cianjur/cr1/cr2)


loading...

Feeds