TKW Cianjur Aborsi di Pesawat, Ini Curhatan Sang Keluarga

BUKAN RUMAH HANI: Rumah ini miki kakak ipar Hani, TKW asal Cianjur yang aborsi di pesawat. Di rumah ini kedua anaknya tinggal.

BUKAN RUMAH HANI: Rumah ini miki kakak ipar Hani, TKW asal Cianjur yang aborsi di pesawat. Di rumah ini kedua anaknya tinggal.

POJOKJABAR.com, CIANJUR – Tragedi buang bayi di toilet pesawat yang dilakukan TKW asal Cianjur bernama Hani menyita banyak perhatian.

Penasaran dengan kondisi keluarga Hani, Radar Cianjur (Grup Pojokjabar) pun mendatangi kediamannya di Kampung Cinangsi, Desa Margasari, Kecamatan Naringgul, Cianjur.

Tak mudah memang untuk menuju lokasi bagian paling selatan Kabupaten Cianjur itu. Perjalanan sekitar enam jam dari pusat kota Cianjur dengan kondisi jalan berliku dan sebagian rusak harus ditempuh. Itu pun baru sampai ke pusat Kecamatan Naringgul saja.

Untuk sampai ke rumah Hani, tidak bisa menggunakan motor biasa. Tim dari Radar Cianjur harus menggunakan motor ojek warga setempat, mengingat jalan sebagian besar tanah dan naik turun. Sulit bagi pendatang untuk melaluinya.

Setibanya di lokasi, kondisi rumahnya memang cukup memprihatinkan. Ternyata itu bukan rumah milik Hani, melainkan milik kakak Iparnya Wartini (40).

BACA JUGA : Begini Kronologi TKW Cianjur Aborsi di Pesawat Etihad

Wartini lah yang mengurus kedua anak Hani bernama Subhan (15) dan Andrian (5), selama bekerja di luar negeri.

Lantaran Hani sudah cerai dari suaminya. Wartini (40) pun mengaku sudah tahun kabar saudaranya melakukan aborsi di pesawat Etihad setelah melihat berita di media elektronik.

“Saya tah kabarnya setelah melihat tayangan berita di TV,” kata Wartini ditemui di rumahnya.

Menurut Wartini, selama berada di Abhudabi, Hani tak pernah lepas komunikasi denganya, karena kedua anak Hani, dirawat olehnya.

“Satu bulan sekali Hani selalu nelpon menayakan kedua anaknya,” aku Wartini.

Masih kata Wartini, Hani sudah tiga kali berangkat ke Timur Tengah untuk bekerja menjadi TKW. Namun baru kali ini dapat masalah.

“Yang pertama dan kedua Hani berangkat ke Saudi Arabia, dan yang terakhir berangkat ke Abhudabi,” katanya.

Wartini mengatakan, Hani berangkat ke Abhudabi melalui Samsul, sponsor TKI asal Sindangbarang, hingga akhirnya ditampung di PT Andika Sumber Rezeki Jakarta.

“Saya pernah mendapat kabar dari Hani, bahwa dirinya berangkat ke Abhudabi melalui jalur yang tak resmi,” paparnya.

Sementara itu, Ketua RW 05 Desa Margasari Abas mengatakan, selama bekerja di Abhudabi, Hani sempat minta cerai suaminya bernama Soleh (40).

“Setelah dua tahun di Abhudabi, pernah minta cerai pada suaminya dengan alasan ia telah mempunyai pacar warga negara Pakistan. Saya yang mengurus percerainya,” katanya.

Menurut Abas, saat dilakukan musyawarah perceraian Soleh suami Hani rela menjatuhkan talaknya dengan catatan rumah yang dimilikinya menjadi hak paten Soleh.

“Setelah Hani dicerai, kedua anaknya tinggal bersama kakak ipar Hani karena mereka menolak tinggal bersama ayahnya,” jelasnya.

Abas menjelaskan, tak lama dari proses perceraian, ia kembali mendapat telpon dari Hani, bahwa Hani ingin menikah dengan Asep warga Kecamatan Sindangbarang Kabupaten Cianjur.

“Karena itu permintaan Hani, orang tuanya terpaksa meneruti keinginan anaknya, meski saat pesta perkawinan pengantin pria berada di Indonesia, dan pengantin wanita berada di Abhudabi,” katanya.

Ia mengatakan, jabang bayi yang dibuang di toilet pesawat Etihad bisa dipastikan hasil hubungan gelapnya.

“Sejak mereka menikah Hani dan Asep belum pernah ketemu, karena Hani berada di Abhudabi sementara Asep berada di Indonesia,” katanya.

(radar cianjur/dil)


loading...

Feeds