Bukan Dipukul Cangkul, Hendra Warga Cianjur Tewas Dipukul oleh Benda Ini

REKONTRUKSI: Pelaku memukul kepala saat menghabisi nyawa korban.

REKONTRUKSI: Pelaku memukul kepala saat menghabisi nyawa korban.

POJOKJABAR.com, CIANJUR – Rekontruksi penganiayaan terhadap Hendra Fadira (14) yang menyebabkannya tewas, pada Rabu (6/12/2017) menuai protes dari keluarga dan kerabat korban. Mereka menyebut, rekontruksi itu tidak sesuai dengan penuturan korban semasa hidup.

“Itu salah, tidak sesuai dengan kenyataan yang dikatakan korban. Korban mengalami luka sobek yang cukup dalam, karena dipukul dengan besi bukan gagang cangkul. Dari pernyataan itu saja sudah berbeda,” kata kerabat korban, Asep Jamaludin.

Menurut Asep pada proses rekonstruksi tersebut banyak adegan yang tidak sesuai fakta. Hal-hal yang dikatakan korban, tidak ada satupun yang dicantumkan dalam reka adegan itu. Termasuk pernyataan HF, yang mengaku jika ia dianiaya juga oleh pemilik kebun tempat Harun bekerja, yaitu Slamet. Asep yakin dulu sebelum meninggal HF memberikan keterangan yang sebenarnya.

“Kelemahan kami (keluarga) memang terletak pada kesaksian. Setelah HF meninggal, tidak ada lagi saksi korban. Ditambah lagi, saat kejadian memang tidak ada saksi yang menyaksikan makanya kami mengalah,” katanya.

Akan tetapi, Asep juga tidak bisa berbuat banyak, karena masyarakat setempat juga ketakutan untuk memberikan kesaksian. Soalnya, Harun selama ini dikenal sok jagoan di lingkungan tersebut.
Menurut dia, masyarakat tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam kasus HF yang sempat viral, karena terkait isu sara lantaran pemilik kebun berasal dari etnis tertentu.

“Tapi keluarga bersedia membuktikan semua kebenarannya, kalau mau dibongkar silahkan bongkar saja makam HF dan lakukan otopsi,” ujarnya.

Sementara itu Kabag Ops Polres Cianjur Kompol Warsito mengatakan, kegiatan Rekontruksi ini dilakukan untuk lebih memperjelas kedudukan ataupun permasalahan yang terjadi.

“Selama ini bisa dikatakan viral namun tidak terlalu viral namun intinya kejadian ini bareng dengan permasalahan Rohingya akhirnya banyak yang viral bahwa Pelaku adalah Cina pelaku adalah Budha, namun dari gambaran ini bukan saya membela personel, tapi dari gambaran tadi tidak ada peran bahwa dr. Slamet untuk melakukan penganiayaan tapi murni dari pegawainya,” tuturnya.

Warsito menuturkan, dari rekontruksi yang ada sebanyak 16 adegan ini menggambarkan tentang kejadian tersebut.

“Ini kan untuk menetralkan suasana karena waktu itu ada ormas-ormas tertentu yang meminta kepolisian untuk menangkap yang bersangkutan. Nah, itu kan bukan alat bukti dalam pembuktian suatu kasus. Sehingga, waktu itu saya jelaskan kalau alasannya hanya etnis tertentu Polisi tidak bisa menangkapnya,” paparnya.

Warsito juga menghimbau kepada masyarakat, karena permasalahan sudah jelas dan pelaku sudah ditangkap semuanya diserahkan kepada proses hukum.

“Apabila masyarakat punya informasi yang kuat dan didukung dengan alat bukti dan saksi aparat kepolisian masih membuka kasus tersebut,”pungkasnya.

(radar cianjur/dil)


loading...

Feeds

Obrolan Bersama Pojokjabar Tentang Pilbup Bogor di Graha Pena, Kamis (14/12/2017)

Pilbup 2018 di Mata Kader PDIP

POJOKJABAR.com, BOGOR– Sejumlah tokoh di Kabupaten Bogor yang ramai di media soal bursa pencalonan cabup/cawabup, dipertemukan Pojokjabar.com di Graha Pena …