Anak Sekolah, Waspada Marak Pencurian Seperti Ini

Penipuan Telepon

POJOKSATU.id, CIANJUR – Kejadian naas tidak akan pernah diharapkan oleh siapapun. Begitupun kriminalitas tidak memandang korbannya, bahkan anak-anak sekalipun.

Seperti halnya dialami Felza Wahyudi Putri Romansyah (12) dan teman sekelasnya, Aulia Putri (12) siswi kelas enam SD Gelar 1, Pamoyanan, Cianjur.

Keduanya, Senin (13/4) sore kemarin, jadi korban pencurian dengan modus hipnotis oleh seorang perempuan yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Akibatnya, dua buah handphone Galaxy Samsung Ace III milik Felza dan Oppo milik Aulia pun raib dibawa kabur sang pelaku.

Feliza yang datang ke kantor Redaksi Radar Cianjur (GRup Pojoksatu.id), sekitar pukul 17.00 WIB ditemani ayahnya, Erin Darussalam, mengungkapkan, kejadian itu bermula ketika ia hendak menumpang angkot untuk mengikuti pelajaran tambahan di sekolahnya.

“Waktu itu sudah pulang dari sekolah untuk mengerjakan PR di rumah. Terus mau ke sekolah lagi untuk ikut pelajaran tambahan. Makanya kami berdua menunggu angkot di depan SMPN 4 sekitar pukul 14.00 WIB,” jelas Felza.

Ketika itu, tiba-tiba datang seorang perempuan yang sedang berkomunikasi dengan seseorang melalui telepon selularnya. Dalam pembicaraan tersebut, lanjut Felza, perempuan itu minta ditunjukkan arah ke Toserba Selamat, di Jalan Siliwangi, Sawahgede.

“Dia lagi telponan sama temannya. Dia minta ditunjukkan arah ke Toserba Selamat, tapi tidak tahu jalannya,” lanjut Feliza warga Gang Harmoni, Jalan Siliwangi No 7, Pamoyanan ini.

Karena tidak mendapatkan petunjuk arah yang cukup, perempuan tersebut lantas meminta Felza dan Aulia untuk membantu mendapatkan arah ke Toserba Selamat. Kepada perempuan berkulit coklat dan berambut lurus sepundak serta diikiat itu, Felza menyarankan agar ia menumpang angkum trayek 04A.

Namun, perempuan yang mengaku baru lima hari di Cianjur dan berasal dari Depok itu memaksa keduanya untuk ikut mengantarkannya langsung ke Toserba Selamat. Anehnya, perempuan itu terus saja memaksa kedua gadis kecil itu untuk ikut mengantarkannya meski sudah berulang kali menolak dengan alasan harus mengikuti pelajaran tambahan di sekolahnya.

“Dia terus memaksa untuk diantar. Tapi tidak mau pakai angkot. Dia maunya naik becak. Alasannya karena panas,” sambung dia.

Selanjutnya, dengan keadaan terpaksa dan tanpa menyimpan prasangka buruk, keduanya pun menuruti kemauan perempuan yang mengaku sedang menjalani PKL di Polres Cianjur dan akan menjadi calon polwan itu.

“Akhirnya naik becak ke Toserba Selamat,” tutur Felza.

Dalam perjalanan di atas becak, perempuan itu mengaku sudah berkali-kali dibohongi orang dan harus kesasar berkali-kali karena diberikan petunjuk arah yang salah. Ia pun menyatakan, tujuannya ke Toserba Selamat adalah untuk membeli sejumlah pakaian yang mau disumbangkan ke panti asuhan dan anak-anak yatim.

“Sampai di Toserba Selamat dia juga terus memaksa kami untuk ikut mengantar ke dalam. Alasannya untuk mencoba-coba baju yang akan dibelinya itu. Kami sudah menolak, tapi dia terus memaksa,” terang Feliza lagi.

Kembali, keduanya pun menuruti permintaan perempuan bertubuh sedikit gemuk dan memiliki tinggi badan sekitar 160an centimeter itu. Di dalam toko tersebut, keduanya pun diminta untuk mencoba sejumlah pakaian di dalam kamar pas.

Di sela-sela memilih-milih baju, perempuan yang memiliki jerawat di sekitar tengah kedua alisnya itu meminta kedua gadis lugu itu untuk tidak menyimpan handphone di saku. Alasannya, radiasi dari handphone tersebut bisa menyebabkan berbagai penyakit. “Dia bilang hapenya dititipkan saja ke dia. Terus kami disuruh mencoba-coba pakaian di kamar pas,” kata dia.

Namun, setelah kedua gadis lugu itu keluar dari kamar pas, mereka tidak lagi mendapati perempuan tersebut. Keduanya pun lantas mecarinya ke seluruh sudut pertokoan itu tapi tetap tidak menemukannya.

Ayah Feliza yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Cianjur, Erin Darussalam cukup menyesalkan kejadian yang menimpa anaknya itu. “Saya minta kepada petugas kepolisian untuk menindaklanjuti hal ini dan mancari pelakunya. Apalagi yang diincar adalah anak-anak sekolah. Keselamatan memang yang utama, tapi trauma anak ini yang cukup saya khawatirkan,” ujar Erin.

Kapolres Cianjur, AKBP Dedy Kusuma Bakti menyatakan, akan menindaklanjuti kasus tersebut, mengingat berdasarkan keterangan dari pihak security Toserba Selamat bahwa selama ini telah terjadi sejumlah kasus serupa dengan korban yang juga masih anak-anak sekolah. “Kami sudah arahkan Satreskrim untuk segera menindaklanjuti kasus tersebut dan mencari pelakunya,” ujar Dedy.(ruh/dep)

Feeds

WARGA MENOLAK SSA : Spanduk penolakan Sistem Satu Arah (SSA) yang mengatasnamakan Forum RW dan LPM Kelurahan Depok Jaya terpasang di sisi Jalan Nusantara Raya, kemarin malam. Foto : Ahmad Fachry/Radar Depok

Warga Depok Jaya Tolak Sistem Satu Arah

POJOKJABAR.com, DEPOK – Sistem satu arah (SSA) yang diujicoba Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, mulai diprotes. Keladinya, jalan searah tersebut dinilai …