Sisi Lain Rektor IPB Periode 2017-2022, Dr Arif Satria, Batal Jadi Jurnalis Bukan Alasan Berhenti Menulis

SILATURAHMI: Rektor IPB Dr Arif Satria (kemeja putih) bersama Neno Arif Satria (kanan) berbincang santai dengan CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu (tengah) di Graha Pena Bogor jumát (15/12). Meldrick/Radar Bogor

SILATURAHMI: Rektor IPB Dr Arif Satria (kemeja putih) bersama Neno Arif Satria (kanan) berbincang santai dengan CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu (tengah) di Graha Pena Bogor jumát (15/12). Meldrick/Radar Bogor

POJOKJABAR.com, BOGOR – Dr Arif Satria baru saja dilantik sebagai Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), jumát (15/12/17). Sebelum menjadi orang nomor satu di IPB, Arif rupanya pernah bercita-cita sebagai jurnalis. Seperti apa cerita lain pria yang mengidolakan musisi Chrisye tersebut?

Hanya beberapa menit menjelang adzan maghrib, sedan hitam F 1 PB memasuki pelataran parkir Graha Pena Bogor, Jalan KH Abdullah Bin Nuh, Kota Bogor. Berhenti tepat di depan lobi kantor Radar Bogor, sosok pria berbadan tegap didampingi wanita berhijab, turun dari mobil.

”Maaf ini pakai sandal, sebentar lagi waktu salat,” tutur Dr Arif, setelah mengucap salam dengan semangat.

Bersama sang istri, Neno Arif Satria, Arif langsung melangkahkan kaki menuju lantai 5 Graha Pena. Di sana, sudah menanti CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu bersama jajaran redaksi Radar Bogor. Arif memang sengaja silaturahmi dengan media tadi malam.

Keinginan Arif mempererat hubungan dengan media rupanya tak lepas dari cita-cita semasa kuliah: menjadi jurnalis. Ia mengaku gemar menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Di era 1990-an, pria kelahiran Pekalongan 17 September 1971 itu sudah sering menulis dan mengirimkannya ke berbagai surat kabar. Tapi saat itu, tulisannya jarang dimuat.

Arif tak gentar. Anak kedua pasangan Faruk Hasan dan Sri Utami itu terus menulis hingga di masa kuliah. Perjuangan itu membuahkan hasil. Tulisannya dimuat di sebuah koran di Bandung, Jawa Barat.

”Rasanya senang sekali, tulisan saya bisa dimuat,” ujarnya, seraya menyebut saat itu ia mendapat upah Rp50 ribu dari hasil tulisannya.
Sejak saat itu, Arif aktif menulis hingga dimuat di beberapa media nasional. Arif pun lantas berkeinginan menjadi seorang jurnalis. ”Saya sempat ingin menjadi wartawan,” kata pria yang juga piawai menciptakan lagu tersebut.

Namun keinginannya itu mendapat penolakan sang pujaan hati, Neno. Wanita yang kini menjadi istrinya itu meminta agar Arif berkiprah di dunia akademisi. ”Saat itu kami masih pacaran. Saya melarang karena melihat potensinya yang lebih besar dan saya sarankan agar menjadi dosen,” tutur Neno Arif yang mendampinginya saat berkunjung ke Graha Pena.

Arif pun kemudian memutuskan menjadi seorang akademisi. Dia melanjutkan kuliah S2 jurusan Sosiologi Pedesaan IPB dan S3 Marine Policy di Kagoshima University, Jepang. Sejak itu, kiprahnya tak diragukan lagi. Sejumlah jabatan diembannya, di antaranya: Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB, Penasehat Menteri kelautan dan Perikanan, serta Direktur Riset dan Kajian Strategis IPB. Tak hanya itu, Arif juga aktif terlibat dalam penyusunan berbagai kebijakan kelautan dan perikanan sejak 2002.

Lantas, apakah sang rektor kini masih menulis? Rupanya iya. Arif bahkan sudah meluncurkan beberapa buku. Di antaranya: Pesisir dan Laut; Globalisasi Perikanan: Reposisi Indonesia?; dan buku Politik Kelautan dan Perikanan.

Kegigihan dan komitmen Arif juga yang membuat Neno jatuh cinta. Mereka berkenalan semasa kuliah di IPB, dan keduanya merupakan teman satu kelas. Mereka kini dikaruniai dua anak: Zafran Akhmadery Arif dan Sweetyandari Nindya Areefa.

Satu lagi sifat Arif yang disukai Neno. Arif adalah pria gantle dan bertanggung jawab. Sifat itu pula yang ditunjukkan Arif saat terjadi insiden kecil dengan pewarta jelang pelantikannya di kampus IPB kemarin. Secara pribadi, Arif meminta maaf langsung kepada pewarta Radar Bogor yang sempat ditolak masuk ke ruang pelantikan, Auditorium Andi Hakim Nasoetion, IPB Dramaga.

Sementara itu, Arif menyadari ada tantangan besar yang perlu diperhatikan IPB di masa kepemimpinannya ini. Pertama, era disrupsi yang penuh dengan ketidakpastian, turbulensi, dan kompleksitas yang harus disikapi dengan cermat.

Era disrupsi distimulasi oleh kemajuan teknologi digital menuntut IPB untuk lebih peka terhadap sinyal-sinyal perubahan, baik cara berpikir, budaya kerja, business process, maupun organisasi.

“Turbulensi ekonomi, sosial politik, dan tingkat kecepatan digital disruption merupakan momentum yang perlu disikapi dengan kesiapan dan kesigapan kita dalam mengelola perubahan, pola pikir maju dan tumbuh kembang,  tidak terpecah perhatian dan totalitas jiwa raga,” kata dia.

Lebih-lebih kini generasi Milenial memiliki karakter serta tuntutan kebutuhan sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Zaman NOW membutuhkan pendekatan yang serba NOW.

“Saya menyadari amanah sebagai Rektor IPB periode 2017-2022 bukanlah tugas yang ringan, namun saya sangat percaya dengan modal sosial yang ada serta dukungan dan kerjasama seluruh pemangku kepentingan IPB, Insya Allah dengan seluruh kemampuan dan dedikasi saya untuk mengabdikan diri dan memberikan yang terbaik, akan mampu melaksanakan seluruh program yang telah dirancang untuk membawa IPB ke masa depan yang lebih baik,” tandasnya.

(RD/dik/wil/pojokjabar)

 


loading...

Feeds