Ternyata Warga Puncak Bergantung pada Ghat

TEMUAN: Penemuan ladang ghat di pekarangan vila di Jalan Pra Asia Afrika kawasan Lembah Cisampay, belum lama ini. Doni/Radar Bogor

TEMUAN: Penemuan ladang ghat di pekarangan vila di Jalan Pra Asia Afrika kawasan Lembah Cisampay, belum lama ini. Doni/Radar Bogor

POJOKJABAR.com, BOGOR — Pasca penggerebekan dan pemusnahan 150 batang pohon katinon atau ghat, beberapa  warga di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua angkat suara. Mereka berpendapat, banyak yang menggantungkan hidup dari tanaman candu tersebut.

Permintaan yang tinggi dan kebutuhan ekonomi, menjadi alasan warga menanam secara sembunyi-sembunyi. Alasannya tak ada sanksi pidana yang bakal menjerat mereka.

MF (42) salah satunya. Ia turun temurun menanam ghat di sekitar villa. Keberadaan turis Timur Tengah  menjadi alasannya. “Orang Arab suka ghat.  Makanya enggak rugi juga buat masyarakat,” ujar warga  RT 02/07 ini kepada Radar Bogor (Pojoksatu.id Group).

Namun, sambungnya, duan ghat hanya dikonsumsi warga asing. Sedangkan penduduk lokal enggan mencicipi daun yang serupa teh itu. “Kalau dulu banyak, harganya lumayan murah. Bisa dijual Rp100 ribu perikat. Sekarang jarang ditaman, jadi bisa Rp500 ribu perikatnya. Kami tahunya itu obat,” ucapnya.

Terpisah, Kepala BNN Kabupaten Bogor Nugraha Setia Budi akan menindaklanjuti temuan tanaman ghat, karena temuan di Desa Tugu Selatan berdasarkan informasi dari masyarakat.

“Diduga masih ada yang lainnya. Kami masih melakukan penyelidikan, kemudian disampaikan kepada direktorat di BNN pusat bahwa tanaman itu masih ada,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan,  Direktorat Narkotika Deputi Pemberantasan pada BNN RI melakukan penertiban ladang ghat di halaman v ila Jalan Pra Asia Afrika, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Selasa (12/12/17) lalu. Lebih dari 150 batang pohon katinon dimusnahkan dengan cara dibakar.

(RB/don/pojokjabar)

 


loading...

Feeds