Kades Bojonggede Tolak Dibangun Mall Seiring Pembangunan Integrasi Terminal dan Stasiun, Kenapa?

Masyarakat menolak pembangunan Mall dalam proyek integrasi Terminal dan Stasiun di Bojonggede.

Masyarakat menolak pembangunan Mall dalam proyek integrasi Terminal dan Stasiun di Bojonggede.

 

POJOKJABAR.com, BOGOR  – Rencana Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bogor untuk mengintegrasikan Terminal dan Stasiun Bojonggede bahkan difasilitasi Mall dengan konsep Transit oriented development (TOD) tampaknya belum dapat terwujud.

Pasalnya Kepala Desa (Kades) Bojonggede, Dede Malvina, menolak adanya Mall tanpa diperbaiki sarana dan prasarana pendukung lainnya.

Dede menjelaskan, untuk mendukung konsep TOD tersebut, Pemda Kabupaten Bogor harus memikirkan bagaimana caranya memperbaiki sarana dan prasarana pendukung untuk mengurangi tingkat kemacetan di kawasan Bojonggede.

Di antaranya yaitu satu-satunya akses Bojonggede harus diperlebar.

“Eksisting saat ini, kita hanya memiliki ruas jalan selebar 6 meter, sementara mobilisasi di jalanan sangat tinggi. Tak bisa dipungkiri, tiap hari kita merasakan kemacetan luar biasa, ditambah dengan aktivitas kereta yang tidak bisa terhenti,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sesuai dengan tipologi desa Bojonggede, kawasan itu memang sudah ditentukan sebagai daerah perdagangan dan jasa.

Namun, apakah itu adanya minimarket atau swalayan besar maupun Mall justru akan berdampak terhadap sosial ekonomi di tingkat wilayah.

Oleh karena itu, Dede menegaskan,  siapkan dulu fasilitas infrastrukturnya baru bangun apa yang dibutuhkan untuk warga Bojonggede.

“Kalau Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor berniat membangun yang bersifat pasar swalayan atau mall, lebih baik saya tolak. Desa bojonggede belum perlu mall. Sudah cukup mall yang ada di Cibinong. Kalaupunj mau konsep itu, lebarin dulu jalannya. Karena jika menggunakan jalan sekecil ini dibikin mall justru menambah kemacetan. Terlebih, kita akan memprediksi setahun mall berdiri, dua tahun kemudian akan bangkrut atau tidak berkembang contohnya seperti ITC,” ungkap Dede.

Menurut Dede, akan lebih baik jika Pemda memikirkan untuk mempersiapkan pelebaran jalan.

Sebab, untuk kepentingan akses terminal saja, dibutuhkan jalan yang lebar melebihi eksisting saat ini.

Jalan di Bojonggede belum mendukung, untuk transportasi di kawasan ini saja, ujarnya, memiliki 3 akses transportasi yaitu stasiun kereta, terminal, transportasi sampah Kali Baru.

Transportasi sampah sudah tidak bisa diubah, sedangkan untuk akses terminal kita memiliki  jalur akses keluar dengan 7 trayek angkot diantaranya Bojonggede-Ciampea, Bojonggede-Parung, Bojonggede-Depok, Bojonggede-Ciluar, Bojonggede-Cibinong, Bojonggede-Pasar Anyar, dan Bojonggede-Indraprasta.

Ia menjelaskan, untuk kebutuhan 1 trayek angkot minimal tersedia 50 unit angkot, artinya sudah ada 300 mobilisasi angkot yang keluar masuk terminal.

“Itu baru angkot bagaimana mobil pribadi masyarakat sehingga harus dipikirkan untuk perbaikan akses di Bojonggede. Kita sangat mendukung program Pemda jika semua dipersiapkan untuk meminimalisir kemacetan. Untuk pelebaran jalan itupun dibutuhkan adanya pembebasan lahan serta pemanfaatan lahan irigasi milik Pemda,” pungkasnya.

 

(Adi/Pojokjabar)



loading...

Feeds

persikad-depok

Persikad Depok Turun Kasta ke Liga 3

POJOKJABAR.com, DEPOK – Persikad Depok bak jatuh tertimpa tangga. Setelah kepemilikannya berpindah-pindah, informasi teranyar tim berjuluk Serigala Margonda itu terdegradasi …