Prof Ari Purbayanto: Persepsi Elit Lahirkan Politik Beras

Prof Ari Purbayanto

Prof Ari Purbayanto

POJOKJABAR.com, BOGOR – Profesor Ari Purbayanto saat ini adalah Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Indonesia di Kualalumpur. Dia menganggap pemerintah belum serius membnerikan perhatian terhadap potensi laut Indonesia yang sangat besar.

Berikut rangkuman diskusi Hazairin Sitepu dengan diplomat yang juga guru besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB itu. Disajikan secara tanya-jawab.

HS : Bagaimana Anda melihat beras sebagai salah satu produk pertanian sebegitu besar memberi pengaruh terhadap pangan Indonesia, padahal kita memiliki keberagaman pangan luarbiasa.

AP : Dalam hal mengedeukasi masyarakat dan menggerakan pembangunan, sebenarnya konsepsi kita itu salah. Sehingga penerapannya juga salah. Padahal kebutuhan karbohidrat dapat dipenuhi dari berbagai macam sumber bahan makanan. Tidak hanya beras.

Beras kemudian disimbolkan sebagai makanan elit. Orang makan gaplek disebut tidak elit. Sagu tidak elit. Pada saat ke Sulawesi, saya disuguhi singkong. Itu biasa. Jadi persepsi beras elit itu kemudian melahirkan politik beras. Kalau tidak makan beras berarti belum elit. Itu salah.

Harus kita mainstreamkan bahwa beras tetap kita sediakan tetapi jangan sampai mengubah pola makan tradisional kita. Jepang, misalnya, dulu beras adalah pangan pokok. Tetapi sekarang dia ekport, karena kebiasaan pagi dia tidak makan beras, roti saja, siang baru makan beras, malamnya dia makan mi gandum.

Tetapi lambat laun beras kita tetap dipertahankan tetapi pada saat suply kita berlebih, ya kita eksport. Itu juga bagaimana kita mengkomunikasikan. Ahli gizi masyarakat IPB rasanya bagus. Kita sudah memberikan contoh, kita sudah punya beras analog, dan itu dari berbagai macam bahanmakanan. Saya kalau ke Papua dikasih papeda (salah satu panganan tradisional yang terbuat dari tepung sagu) juga saya makan, dikasih singkong juga saya makan.



loading...

Feeds

ilustrasi

Tips Jadi Pemuda Mandiri ala IEC

Jadi pemuda yang mandiri jadi dambaan banyak orang. Bukan hanya mandiri dalam keuangan, namun secara mental dan spiritual pun demikian.