UN Online Lancar, Manual Tertukar

20151304---nelvi---UN-CBT-SMA-2-Cib-(6)

Peserta UN online di SMKN 3 Bogor terlihat serius tapi santai saat mengerjakan soal.

POJOKSATU.id, BOGOR-Ujian Nasional (UN) online perdana di Kota dan Kabupaten Bogor, kemarin sukses digelar. Pelajar tampak mudah beradaptasi dengan sistem computer based test (CBT) itu. Namun di sisi lain, UN tulis atau paper based test (PBT) justru mengalami kendala. Ada sejumlah temuan tertukarnya soal ujian.

SEBANYAK 69.154 siswa SMA/sederajat di Kota dan Kabupaten Bogor kemarin menghadapi ujian nasional. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, beban para siswa tahun ini lebih ringan. Itu karena pemerintah memutuskan UN tak lagi menjadi penentu kelulusan.

Selain itu, pelaksanaan UN juga dibagi dalam dua kategori. Ada sekolah yang masih menerapkan UN PBT alis ujian tulis, ada juga yang sudah menerapkan UN online. Ujian tulis berlangsung selama tiga hari, 13 sampai 15 April. Sementara UN online berlangsung selama enam hari, 13–16 April, dan 20– 21 April.

Pada hari pertama UN tulis, siswa kelas IPA menghadapi mata pelajaran bahasa Indonesia dan kimia. Sedangkan kelas IPS duiji soal bahasa Indonesia dan geografi. UN online juga menguji soal serupa.

Dari 714 sekolah di Kota dan Kabupaten Bogor, ada enam sekolah yang sudah menerapkan UN online. Di Kota Bogor di antaranya SMKN 3, SMK Wikrama, dan SMK Infokom. Sementara di Kabupaten Bogor, SMAN 2 Cibinong, SMKN 1 Cibinong, dan SMK Triple J Citeureup.

Di SMKN 3 Bogor, siswa menyelesaikan soal-soal ujian lebih awal dari waktu yang dijadwalkan. Untuk satu soal, mayoritas siswa menyelesaikannya dalam waktu 1 jam 30 menit. Hemat 30 menit dari waktu dua jam yang diberikan.

“Ujian dengan komputer memang sangat praktis, Tinggal klik langsung jadi. Kalau pakai kertas untuk pengisian biodata saja bisa 20 menit, kalau komputer hanya semenit,” tutur Muhamad Hasby Natawidjaya, peserta UN di SMKN 3 Bogor.

Pelaksanaan UN online dibagi dalam tiga sesi di satu hari ujian. Yaitu pada pukul 07:30-09:30 10:30-12:30, dan pukul 14:00-16:00. Setiap peserta memperoleh soal yang berbeda. Sebelum memulai ujian, Hasby dan 484 siswa lainnya menerima personal identification number (PIN) dari proctor (penanggung jawab server). Setelah itu, Hasby tinggal log in ke server lokal sekolah. Dia mendapat nomor ujian 21.

“Sebelum mengisi soal, kami  memasukkan nomor register dulu,” bebernya. Setelah menyelesaikan ujian, para siswa harus mengecek kembali jawaban dan biodata mereka agar tidak ada kesalahan. Setelah itu para pengawas dan teknisi mengecek kembali sebelum siswa log out dari server.

Jika membandingkan UN online dengan UN versi tulis, Hasby mengaku mulai terbiasa dengan UN online. Musababnya, ia tak perlu khawatir dalam menjawab soal. “Sangat mudah pengoperasiannya. Jika ada jawaban yang salah, tinggal mengeklik jawaban yang menurut kita benar dan otomatis jawaban kita berpindah,” jelasnya.

Meski UN tidak lagi menjadi syarat utama kelulusan, Hasby mengaku masih menganggap UN sebagai tes penting yang harus dikerjakan secara serius. “Nanti nilai UN akan masuk ijazah. Jadi, harus belajar supaya nilainya bagus. Apalagi, ijazah kan digunakan untuk melamar kerja,” jelasnya.

Sedikit berbeda diungkap kawan Hasby, Ardiansyah Saputro. Siswa jurusan Akomodasi Perhotelan itu mengaku sempat gugup menghadapi ujian. Dia gugup karena kamera CCTV terus memantau di ruangan ujian. “Ternyata UN Online mudah, tidak pakai lama dan efisien. Tinggal klik, semua selesai. Tapi saya sempat gugup, ditambah lagi diawaasin CCTV,” ungkapnya.

Kepastian lancarnya pelaksanaan UN juga terlontar dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Edgar Suratman. Ia mengaku belum menerima laporan kendala berarti.

“Semuanya berjalan lancar, tidak ada kendala. Setiap siswa bisa membuka soal yang diberikan,” ujarnya saat inspeksi mendadak di SMKN 3 Kota Bogor kemarin.

Karena berlangsung secara online ancaman hacker juga menjadi prioritas pemkot. Edgar mengaku di setiap ruangan sudah menyiapkan cadangan server guna mengantisipasi adanya gangguan jaringan dan serangan hacker. “Jika mati lampu, datanya tidak bakal hilang langsung otomatis disimpan di server, begitu pun ketika ada serangan hacker,” kata dia, seraya mengimbuh jumlah peserta UN online dan tulis di Kota Bogor sebanyak 20.591 siswa dari 151 sekolah.

Edgar menambahkan, Disdik menargetkan tingkat kelulusan hingga seratus persen tahun ini. Dibandingkan yang sudah-sudah, Kota Bogor selalu menempati urutan kedua terkait kelulusan siswa di Jawa Barat.  “Kita optimis tahun ini, lulus seratus persen dan unggul di Jabar,” tandasnya.

Di waktu yang bersamaan, sebanyak 1.311 peserta mengikuti Ujian Kesetaraan Paket C, di lingkungan SMA PGRI IV Kota Bogor. Mereka mengikuti ujian kesetaraan dengan berbagai alasan.

Salah satnya, Rian (30), mengikuti ujian karena sekolah yang menyimpan ijazahnya mengalami kebakaran.

“Karena keburu kerja, saya baru sempat mengkuti ujian ini. Ijazah sudah ada dulu, tapi sekolahnya keburu mengalami kebakaran. Ijazah saya hangus,” ungkap pegawai BPKBM Kota Bogor itu.

Soal UN Tulis Tertukar 

Jika UN CBT di Bogor berlangsung lancar, pelaksanaan UN PBT alias ujian tulis justru diwarnai insiden tertukarnya lembar soal. Kejadian itu terjadi di SMK Ksatria Bangsa, Kampung Leuwibilik, RT 04/01 Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.

Soal ujian Kimia pada sesi kedua UN SMA/MA, tertukar dengan soal UN Bahasa Indonesia pada sesi pertama.

“Harusnya, kami terima soal bahasa Indonesia. Tapi saat kami buka amplop yang ada adalah soal Kimia untuk SMA dan MA,” ujar ketua panitia UN, Ahmad Syarifullah kemarin.

Akibat kejadian itu, pelaksanaan UN sempat ditunda selama satu jam.  “Terpaksa, satu ruang kelas tertunda akibat kesalahan itu,” tuturnya.

Penundaan tak berlangsung lama. Sekolah cepat menghubungi pihak Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kabupaten Bogor untuk meminta pendapat. Solusinya, soal bahasa Indonesia digandakan.

“Jika dibiarkan, UN akan tertunda. Karenanya tidak ada alternatif lain, soal harus di fotocopy,” beber Ketua MKKS SMK Kabupaten Bogor, Joko Mustiko.

Tertukarnya soal tersebut mutlak kesalahan Kementerian. Tidak ada panitia lokal yang patut disalahkan. “Kasus seperti ini jelas salah pusat. Kami hanya menerima saja, dalam kondisi tersegel. Jadi murni kesalahan pusat,” tukasnya.

Di Kabupaten Bogor, tercatat ada 48.563 peserta UN dari 563 sekolah. Jumlah itu terdiri dari 15.028 siswa SMA, 26.629 siswa SMK, 4.789 siswa MA, dan 2.117 peserta kesetaraan Paket C.

Kendala serupa juga terjadi di sejumlah daerah. Laporan klasik seperti soal kurang dan tertukar, peredaran kunci jawaban, bocoran soal ujian, hingga guru yang membantu siswa supaya nilai UN sekolah terkatrol masih bermunculan.

Jawa Pos (Radar Bogor Group) melaporkan, di Madrasah Aliyah (MA) Tri Bhakti Pagotan, Geger, Kabupaten Madiun, UN harus molor 1,5 jam. Gara-garanya, amplop yang semestinya berisi naskah bahasa Indonesia ternyata diisi naskah ujian sosiologi. Padahal, jadwal mata pelajaran sosiologi seharusnya pagi ini. Panitia pun kelabakan mencari naskah cadangan di beberapa sekolah.

Untungnya, naskah soal sosiologi itu belum dibagikan kepada 15 siswa jurusan IPA di sekolah tersebut. “Setelah panitia membuka amplop dan melihat isinya sosiologi, naskah tidak jadi dibagikan,” terang Kepala MA Tri Bhakti Handrias Bawan kemarin (13/4).

Soal bahasa Indonesia akhirnya didapat pukul 09.00, setelah mengambil cadangan naskah di SMAN 1 Geger. “Waktu untuk mengerjakan bahasa Indonesia akhirnya molor. Namun, siswa masih punya waktu cukup karena jam kedua masih jeda istirahat selama satu jam,” ujar Handrias

Listrik Padam Ganggu UN Online

Tak seperti di Kota dan Kabupaten Bogor, pelaksanaan UN online dan tulis di sejumlah daerah kemarin terkendala berbagai masalah. Paling awal terdeteksi adalah UN online di SMKN 2 Jayapura. Gara-gara terjadi pemadaman listrik, siswa yang sedang tenang melaksanakan unas tiba-tiba riuh. Komputer mereka mati semua.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud Nizam mengatakan, UN online di SMKN 2 Jayapura terhenti antara sekitar 10 menit hingga 20 menit. Pihak sekolah lantas langsung mengontak PLN supaya listrik segera dinyalakan. “Setelah listrik nyala, siswa kembali melaksanakan ujian dengan tenang,” jelas dia di Jakarta kemarin.

Gangguan di SMKN 2 Jayapura ini juga terjadi di SMK Negeri 2 Sampit. UN online di sekolah favorit di Kabupaten Kotim, Kalimantan Tengah itu sempat terhenti karena listrik padam mendadak. Tetapi, setelah terhenti setengah jam, bisa diatasi dengan genset

Nizam mengatakan listrik di sekolah-sekolah pelaksana UN online harus dijamin tidak terkena pemadaman. Sebab tidak semua sekolah pelaksana UN memiliki alat penyimpan daya listrik darurat.

Gangguan pelaksanaan unas kemudian merembet ke Kediri, Jawa Timur. Puluhan siswa SMKN 3 Kediri yang seharusnya mengikuti UN gelombang pertama terpaksa menjalani ujian pada sore hingga malam hari. Sebab, sinkronisasi server pusat dengan server sekolah terhambat kemarin pagi.

Berdasar laporan Jawa Pos Radar Kediri (Radar Bogor group), ada 63 siswa SMKN 3 yang mengikuti UN online kemarin. Mereka dibagi dalam dua ruangan. Sesuai dengan jadwal, pukul 07.30 siswa sudah siap di depan komputer untuk memulai UN online. Tetapi, saat mereka akan mengoperasikan, komputer tidak dapat diakses.

“Tadi sudah login dan memasukkan token (kode untuk mengakses soal UN online, Red). Tapi, mata ujinya tetap nggak mau kebuka,” ucap Putri Arimbi, salah seorang siswa SMKN 3, kemarin.

Kondisi tersebut membuat siswa bingung. Sebab, hal itu tidak hanya dialami satu siswa. Semua siswa juga tidak bisa login atau masuk ke sistem unas online.

Setelah semua berusaha mencoba beberapa kali, termasuk menghubungi teknisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud),

Server SMKN 3 akhirnya baru terhubung sekitar pukul 09.00 atau sekitar 90 menit dari waktu ujian. Karena terjadi keterlambatan 60 menit dari waktu ujian yang sudah ditentukan, pihak sekolah lantas meminta siswa keluar dari ruang ujian. “Silakan ke musala untuk pengumuman lebih lanjut,” kata seorang guru SMKN 3 kepada puluhan siswa yang menunggu di luar ruangan.(ind/cr2/rub/jpnn)

Feeds