Rusunawa Menteng Asri Sudah Penuh Masih Diobral

PENUH: Anak-anak bercengkerama di halaman rusunawa.

PENUH: Anak-anak bercengkerama di halaman rusunawa.

POJOKSATU.id, BOGOR-Rumah susun sewa (Rusunawa) Menteng Asri, Bogor Barat kerap menjadi tameng pemkot setiap kali terjadi bencana. Tak mau ambil pusing, pemkot menyebut rusunawa sebagai lahan relokasi korban bencana. Padahal, empat blok di rusunawa itu sudah terisi penuh.

Rumah Susun seyogyanya menjadi solusi pemukiman sehat bagi warga berpenghasilan rendah. Namun karena harga sewa yang murah, membuat rumah susun justru banyak diburu kalangan menengah. Seperti yang terlihat di Rusunawa Menteng Asri. Seluruh blok di rusunawa ini sudah penuh. Adapun kamar kosong, sudah dipesan oleh calon penghuni.

Namun pemkot masih mengandalkan rusunawa sebagai lokasi bagi warga yang membutuhkan tempat tinggal. Terakhir, tawaran itu disampaikan kepada sejumlah korban kebakaran di Kampung Padasuka, RT 04/12, Kelurahan Gudang, Bogor Tengah. Benar saja. Tawaran itu sekadar tawaran dan tak ada kelanjutan.

“Saya tidak tahu rusunawa itu di mana. Apa tempatnya jauh dari tempat kami mencari nafkah. Lalu seperti apa bentuk serta fasilitasnya, kami tidak tahu,” aku korban kebakaran di Kelurahan Gudang, Solihin (25), seraya menolak direlokasi.

Tak hanya pada korban kebakaran. Warga di pemukiman bantaran rel kereta juga diusulkan relokasi ke rusunawa. Tapi senada, warga bantaran rel menolak dipindahkan. “Lebih baik di deket rel darip ada harus pindah ke rusunawa” kata Ketua RT 02/17, Kelurahan Cipaku, Andi Setiawan, saat ditemui Radar Bogor beberapa waktu lalu.

Sebenarnya bukan karena mereka betah tinggal di bantaran rel. Namun minimnya sosialisasi serta kondisi rusunawa yang sudah penuh tentu akan menjadi kendala. Selain itu, ada stigma rusunawa akan membuat warga miskin makin sengsara. Mulai dari harga sewa yang mahal, kondisi yang kumuh ditambah lokasi yang jauh dari tempat mencari nafkah.

Soal itu, dewan mendesak pemkot menambah pengadaan unit rusunawa di Kota Hujan. Namun diiringi dengan langkah sosialisasi yang tepat sasaran. Bila perlu, pemkot sebelumnya mengajak masyarakat untuk mengunjungi lokasi rusunawa yang akan dibangun. “Saya sangat setuju untuk mereka yang tinggal di bantaran rel kereta direlokasi ke Rusunawa. Maka dari itu, kami terus mendorong program rusunawa,” cetus Ketua Komisi C DPRD Kota Bogor Yus Ruswandi.

Penghuni Bermobil

Murahnya harga sewa rumah susun, dibidik kalangan ekonomi menengah sebagai pemukiman sementara. Itu terlihat dari sejumlah mobil keluaran terbaru di atas Rp200 juta yang terparkir di sekitaran rusunawa Menteng Asri.

“Saya baru tiga bulan beli mobil. Cuma disimpan di luar biar nggak ketahuan,” aku salah satu penghuni rusunawa, Adam (nama samaran). Larangan penghuni memiliki kendaraan roda empat memaksanya memarkir mobil di luar kawasan rusunawa.

Tak hanya mobil. Kamar Adam berukuran 4×6 meter dilengkapi home theater set. Sementara di bagian belakang ruangan nampak sebuah mesin cuci serta kulkas dua pintu. Fasilitas tersebut dimiliki hampir setiap penghuni rusunawa. “Kalau cuma TV LED, kulkas, mesin cuci, semua kamar ada,” tutur Adam.

Hal senada diakui Wawan (44) penghuni rusunawa Menteng Asri. Mayoritas penghuni berpenghasilan Rp3 juta ke atas. Maka tak heran jika setiap penghuni mampu membeli barang-barang elektronik berkelas.

Sementara untuk penyejuk ruangan (AC) memang tidak diperbolehkan. Bukan karena tidak mampu, namun penggunaan AC akan sangat mencolok dan dilarang oleh pengelola rusunawa. Untuk menyiasatinya, penghuni menggunakan kipas angin berukuran besar.

“Nggak boleh pasang AC. Kebanyakan beli kipas angin. Kalau satu kurang, ya, pasang dua,” tandasnya.(all/d)

Feeds