BLH Langsung Survei Kampung Limus

SIDAK: Petugas BPLH Kota Bogor memeriksa kondisi pengolahan limbah di Kampung Pabuaran, Bogor Selatan, kemarin.

SIDAK: Petugas BPLH Kota Bogor memeriksa kondisi pengolahan limbah di Kampung Pabuaran, Bogor Selatan, kemarin.

POJOKSATU.id, BOGOR-Tim Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bogor, kemarin meninjau ke Kampung Limus, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan. Seharian, tim kemudian menyurvei lokasi pengumpulan, pembakaran dan pembuangan limbah pengrajin sandal tersebut.     “Ada juga dari mereka (pengrajin, red) mengaku sengaja mengumpulkan limbah. Karena ada perusahaan dari Serang yang akan mengangkut. Tapi sudah tiga minggu ini belum juga datang,” kata Kasubid Limbah, pada BPLH, Syinta Juwita.

Syinta yang didampingi Lurah Mulyahaja Abdul Rahman itu mengaku miris dengan kondisi Sungai Cipinanggading yang kerap dijadikan tempat pembuangan limbah sandal. Dari pantauan, tak sedikit limbah sandal menggunung di beberapa titik bibir sungai. Kendati demikian, warga masih tetap memanfaatkan air sungai untuk mandi dan mencuci.

“Sungai ini hulunya memang dari kabupaten, jadi kondisi kualitas air memang dipengaruhi berbagai faktor. Tapi kalau pengrajin selalu membakar limbah sandal di pinggir sungai sudah pasti akan mempengaruhi kualitas air,” jelasnya.

Ke depan, BLH akan mencari solusi yang tepat, bagaimana mengelola sampah yanga ada, menjadi sesuatu yang lebih berguna. Namun dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan sosialisasi terlebih dahulu.

“Kita sosialisasikan kepada masyarakat di sekitar sini, tentang bahaya apabila membuang sampah di kali, apabila membakar sampah, dan bahaya tentang pengunaan zat-zat kimia yang biasa digunakan untuk kebutuhan pembuatan sandal,” kata Syinta.

Dia menyadari, tidak mudah mengatasi masalah itu. Namun, dia akan menggandeng beberapa pihak untuk mencarikan solusi bagi para pengrajin.

“Misalnya, dari BPLH yang bersifat inovasi ke masyarakatnya. Bagaimana merubah paradigma masyarakat agar tidak membuang sampah ke kali, dan tidak membakar sampah. Mungkin nanti solusi dari dinas lainnya seperti apa,” ujarnya.

Dia juga berjanji akan melakukan pembinaan kepada para pengrajin. Agar usahanya bisa berjalan lancar, namun lingkungannya tetap terjaga.

Sementara, Lurah Mulyaharja Abdul Rahman mengaku, dalam waktu dekat pihaknya akan segera berkoordinasi dengan dinas kebersihan agar bisa mengangkut sampah yang ada di wilayahnya.

“Yang jadi masalah besar ini kan polusi dari pembakarannya. Setiap membakar, asapnya bisa sampai ke Perumahan BNR. Bisa dibayangkan ke depannya pernapasan warga seperti apa,” kata Rahman, sapaan Abdul Rahman.

Pihaknya juga mengaku akan bermusyawarah dengan pihak RW setempat agar mengkondisikan warganya, untuk membuang sampah ke tempat penampungan sementara yang ada di Kampung Limus.

“Pokoknya mulai sekarang, limbahnya harus dibuang ke tempat penampungan sementara. Tidak boleh lagi ada yang membakar atau membuang di sungai. Sementara menunggu solusi yang tepat dari pemerintah untuk bisa memanfaatkannya,” tandasnya. (viv/c)

Feeds

WARGA MENOLAK SSA : Spanduk penolakan Sistem Satu Arah (SSA) yang mengatasnamakan Forum RW dan LPM Kelurahan Depok Jaya terpasang di sisi Jalan Nusantara Raya, kemarin malam. Foto : Ahmad Fachry/Radar Depok

Warga Depok Jaya Tolak Sistem Satu Arah

POJOKJABAR.com, DEPOK – Sistem satu arah (SSA) yang diujicoba Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, mulai diprotes. Keladinya, jalan searah tersebut dinilai …