Pemkot Kecolongan, Cari Tempat Penampungan Limbah

PENCEMARAN: Sampah plastik dan spons bahan pembuatan sandal yang tak bisa terurai secara alami, tampak berserakan di tepi sungai Cipinang, Gading, Mulyaharja, Bogor Selatan.

PENCEMARAN: Sampah plastik dan spons bahan pembuatan sandal yang tak bisa terurai secara alami, tampak berserakan di tepi sungai Cipinang, Gading, Mulyaharja, Bogor Selatan.

POJOKSATU.id, BOGOR–Pemkot Bogor mengaku kecolongan dengan pencemaran limbah yang secara masif terjadi di Kampung Limus dan Pabuaran, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan.

Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman berjanji segera menginstruksikan organisasi perangkat daerah yang ada untuk turun ke lapangan.

“Sebenarnya home industry perlu didukung. Masalahnya, mereka harus diberikan penyuluhan akan tata kelola limbah sebelum dibuang,” kata Usmar kepada Radar Bogor kemarin.

Ke depannya, harus diupayakan penampungan khusus limbah agar tidak dibakar dan dibuang ke sungai. “Pemerintah akan melihat, ada tidaknya aset di sekitar kawasan yang dapat dijadikan penampungan limbah sementara,” ungkapnya.

Usmar juga meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas UMKM, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), dan kelurahan turun tangan mencari jalan keluarnya. “Lingkungan harus diselamatkan,”tandas politisi Partai Demokrat itu.

Di sisi lain, anggota Komisi D DPRD Kota Bogor TB Alex Solihin mendesak pemkot segera menangkap keluhan masyarakat. Apalagi, banyak anak dan pelajar yang terancam menghirup polusi udara secara terus-menerus.

“Air dan udara adalah kebutuhan primer. Saya kira masalah ini tak bisa dianggap remeh. Apalagi ada indikasi beberapa penduduk yang mengeluh sakit kulit,” tegasnya.

Berdasarkan pengujian kualitas air Sungai Cisadane dan Ciliwung dengan anak-anak sungainya (Cipinang Gading) oleh BPLH Kota Bogor 2014, menunjukkan parameter Biological oxygen demand berada di atas batas baku mutu.

Kemudian parameter coliform juga sudah di bawah batas baku mutu. Sementara pengujian kualitas udara di Kota Bogor menunjukkan gas SO2, CO, NO2, O3, Debu (TSP), HC, Timbal (Pb), NH3, dan H2S berada di bawah baku mutu udara. Artinya, kondisi itu cukup mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat sekitar.

“Mungkin sebelumnya tim (peninjauan, red), pernah melakukan peng-ujian kualitas air di sana. Berhubung saya masih baru (dipindah sejak Februari) sehingga belum mendapat laporan terbaru kondisi lingkungan di sana,” ucap Kasubid Limbah pada BPLH Kota Bogor, Synta.

Meski kasus ini luput dari pengawasan BPLH, Synta berjanji segera meninjau dan membawa tim ke lokasi. Tim akan meneliti kondisi sungai, termasuk mencari tahu unsur apa saja yang terkandung, dan dampak yang dihasilkan.

“Secepatnya kita turun ke sana. Jujur, saya sendiri baru tahu masalah itu. Tapi yang pasti, kita tidak akan tinggal diam. Kita akan carikan solusinya bersama-sama dengan dinas terkait,” tandasnya.(ind/viv/d)

Feeds