Empat Bocah Perkosa Balita

GRAFIS: data dan fakta kejadian.

GRAFIS: data dan fakta kejadian.

POJOKSATU.id, BOGOR– Apa yang dilakukan empat bocah laki-laki asal Dramaga ini sungguh diluar dugaan. Meski baru berusia lima hingga tujuh tahun, mereka tega memperkosa teman sepermainannya sendiri yang masih balita.

Peristiwa ini tentu saja menggegerkan publik Bogor. Masyarakat masih tak habis pikir, bagaimana bisa R (7), R (6), A (5), F (5), tega berbuat tak senonoh kepada S yang usianya baru menginjak empat tahun.

“Pengetahuan anak tidak sampai situ. Jadi anak hanya meng-copy saja apa yang dilihatnya. Mungkin yang anak lihat itu merupakan tindakan kasih sayang. Makanya ditirulah itu,” jelas Seksologi dr Bona Simanungkalit kepada Radar Bogor, kemarin.

Informasi yang dihimpun Radar Bogor, kejadian tersebut berlangsung Jumat sore akhir bulan lalu(27/3). Kisah nahas ini bermula ketika S (4) kedapatan bermain sendirian di sekitar rumahnya.

Melihat itu, keempat bocah kemudian mengajak main di pos ronda tak jauh dari rumah S. Kepada balita lugu tersebut, R meminta S bergabung dalam permainan rumah-rumahan. Sesampainya di pos, tanpa tedeng aling-aling keempat bocah itu kemudian melucuti pakaian S.

S yang ketakutan lantas menangis. Sayangnya, rengekan S tidak membuat R cs menghentikan perbuatannya. Malahan mereka mencabuli S secara bergantian. Seorang warga yang mengetahui aksi para bocah lelaki tersebut lantas melaporkan kejadian itu ke orang tua korban serta Polsek Dramaga untuk menindak lanjutinya.

Kapolsek Dramaga, AKP Syafuddin Gayo menjelaskan, kasus ini sudah diselesaikan lewat musyawarah yang dihadiri kedua belah pihak orangtua bersama Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bogor, Kantor Urusan Agama (KUA), Balai Pemasyarakatan (BAPAS), MUI serta dokter psikiater anak. “Tapi sampai saat ini kami masih memantau kasus ini,” tegas Gayo.

Kendati sudah mencapai mufakat untuk berdamai, Gayo tetap melaporkan kasus ini ke Pengadilan Negeri Cibinong untuk kemudian menerapkan diversi. Dan empat bocah yang sebelumnya divonis bersalah itu pun bisa kembali bersama orang tuannya.

“Sudah diperiksa alat kelamin S tidak mengalami kerusakan. Tapi walaupun kembali ke orang tua masing-masing. Empat anak tersebut tetap masih dalam pantauan, untuk melihat perkembangannya,” terangnya.

Menimpali Gayo, Bona mengimbau kepada masyarakat agar lebih tertutup ketika sedang melakukan hubungan intim meski di dalam rumah. Pemberian pendidikan seksual sejak dini pun kini penting dilakukan. “Terakhir kasus seperti ini di Bogor tahun 2007 lalu. Makanya agar tidak terualang lagi, peranan orang tua penting,” cetusnya.

Terpisah, Psikolog dra Ida Chrysanti menyebut, tayangan televisi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan anak usia tujuh Tahun melakukan pelecehan. “Jadi ada kemungkinan mereka pernah melihat adegan seperti itu di tv atau internet, atau juga mendengar cerita dari orang lain,” kata Ida.

Selain itu, ada juga kemungkinan anak melihat orang tuanya di dalam satu ruangan. Sehingga kecenderungan untuk meniru cukup besar.

“Anak-anak itu kan sukanya meniru, jadi sebetulnya mereka tidak benar-benar mengerti apa yang mereka lakukan. Mereka hanya meniru apa yang mereka lihat sehari-hari,” ujarnya.

Dia juga menyebut, kejadian itu merupakan kesalahan orang tua sepenuhnya. Sehingga, pengaruh lingkunganlah yang mempunyai andil paling besar dalam kasus ini. “Untuk itu, orang tua harus introspeksi diri, harus lebih mengawasi dengan siapa saja anaknya bergau,” imbaunya. (rp8)

Feeds