BCB Dipasangi Plang Peringatan, Disbudparekraf Minta Bantuan Pusat

DILINDUNGI: Bangunan Stasiun Bogor, salah satu cagar budaya yang dilindungi dan dilestarikan. Bangunan ini akan dipasangi plang peringatan bersama BCB lainnya.

DILINDUNGI: Bangunan Stasiun Bogor, salah satu cagar budaya yang dilindungi dan dilestarikan. Bangunan ini akan dipasangi plang peringatan bersama BCB lainnya.

POJOKSATU.id, BOGOR–Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Kota Bogor memasang plang benda cagar budaya (BCB) di sejumlah bangunan BCB, di Kota Hujan. Termasuk BCB yang berstatus rumah pribadi.

“Semua kantor, tempat ibadah, dan rumah pribadi akan disebarkan pada masyarakat untuk menjadi pegangan. Sah saja dijual atau alih fungsi, tapi tetap harus lewat kajian dulu,” papar Kepala Disbudparekraf Kota Bogor Shahlan Rasyidi kepada Radar Bogor, kemarin.

Langkah itu terpaksa ditempuh, lantaran Disbudparekraf kerap kecolongan. Banyak BCB yang hilang karena dirombak oleh si pemilik bangunan. Ada juga yang rusak oleh tangan-tangan jahil dan aksi vandalisme.

Di sisi lain, Disbudparekraf mengeluhkan minimnya dana pemeliharaan BCB dari APBD. Karenanya, Shahlan mengajukan bantuan kepada pemerintah pusat. Termasuk dana untuk membangun gedung kesenian yang selama ini jadi impian seniman dan budayawan di Kota Bogor.

“Dari Pemprov Jabar sudah oke. Tinggal pelaksanaannya saja. Kami akan mendorong ke dewan agar 2016 sudah bisa dimulai pembangunan,” kata dia.

Dari 485 BCB di Kota Bogor, belum seluruhnya mendapat surat keputusan (SK) walikota atau Menteri Pariwisata. Tanpa SK tersebut, Disbudparekraf kesulitan mencari dana pemeliharaan BCB.

“Termasuk di dalamnya 25 yang sudah mempunyai SK Menteri. Kami ajukan kembali 40 BCB pada SK Walikota. Di antaranya rumah tinggal sekitar 445 unit,” terang Shahlan.

Baru sebanyak 24 BCB yang sudah dikaji oleh tim ahli pada 2009 dan 2010. Di antaranya, Balaikota Bogor, Istana Bogor, bungker, batu dakon dan punden berundak di Batu Tulis. Disbudparekraf juga membutuhkan tambahan juru pelihara BCB. Hingga kini, baru ada 16 orang yang menjadi juru pelihara.

“Honornya Rp300 ribu. Kami masih membutuhkan anggaran yang cukup besar untuk penataan. Seperti Batu Tulis, inginnya ke depan dibuat terbuka. Ini agenda yang masih kami kaji,” tukasnya.(dhi/c)

Feeds