Gagal Bangun Komunikasi Politik, Sukses di Taman dan Percantik Jembatan

CANTIK: Jembatan Oto Iskandar Dinata dipercantik dengan lampu berbentuk huruf Otista. Lampu itu membuat Bogor cantik di malam hari.

CANTIK: Jembatan Oto Iskandar Dinata dipercantik dengan lampu berbentuk huruf Otista. Lampu itu membuat Bogor cantik di malam hari.

POJOKSATU.id, BOGOR–Proyeksi duet maut Walikota dan Wakil Walikota Bogor, Bima Arya-Usmar Hariman dinilai sejumlah kalangan hanya demi mengejar popularitas. Bima-Usmar dianggap lemah dalam merealisasikan visi dan misi pemerintahan.

“Satu tahun ini dis-substantif. Bima lebih mengejar popularisme. Beberapa agenda misi dan visi menjadikan Kota Bogor berkembang malah terbengkalai,” kata pengamat politik dan kebijakan publik IPB, Sofyan Sjaf kepada Radar Bogor, kemarin.

Berbagai aksi yang dipertontonkan Bima-Usmar menanggapi isu yang bergulir di pemkot, seolah menonjolkan sosok pribadinya. Bukan sebagai penyelesaian masalah. “Seperti GKI Yasmin, Terminal Baranangsiang, Amaroossa, penyelesaiannya tidak terlalu baik. Saya kira ini hanya soal popularitasnya saja. Itu jadi hal utama saja,” bebernya.

Bima Arya dianggap lupa mengakomodir kinerja seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan pemkot. Suami Yane Ardian itu juga dinilai gagal membangun komunikasi politik dengan legislatif. “Untuk hal ini, jujur saya merasa kecewa sekali. Bima ini sosok anak muda. Anak muda itu harusnya progresif. Merespon segala dinamika politik,” ujarnya.

Jika komunikasi berjalan baik dengan pelaku politik, pemkot akan mudah melancarkan berbagai negosiasi terkait kebijakan publik. Khususnya pada program-program yang berpotensi menimbulkan pro-kontra di masyarakat.

Meski begitu, walikota dinilai berhasil menghias Kota Bogor dengan program sejuta taman. “Walau itu hanya beberapa lokasi, tapi dia berhasil memperbaiki taman,” cetusnya.

Di sisi lain, apresiasi atas satu tahun kinerja Bima-Usmar juga datang dari sejumlah kalangan. Salah satunya Ketua DPC PDIP Kota Bogor, Dadang Iskandar Danubrata. Dadang mengapresiasi langkah Bima dalam mengangkat pluralisme dan budaya. Sebagai tuan rumah, Bogor sukses menggelar ajang budaya sebagai pemersatu kebhinekaan.

“Hasilnya, pariwisata meningkat. Ada peningkatan kunjungan turis lokal dan asing ke Bogor. Peningkatan mencapai 10 persen. Itu fakta. Patut diapresiasi,” paparnya kepada Radar Bogor kemarin.

Ke depannya, Dadang berharap Bima-Usmar bisa membuka lapangan kerja baru bagi jumlah pengangguran yang masih cukup tinggi. Selain itu, anggaran di bidang kesehatan masih minim. Dinas terkait masih kekurangan anggaran untuk mencegah potensi demam berdarah.

“Untuk biaya pengasapan daera-daerah rawan DBD. Anggarannya masih minim. Ke depannya agar lebih diperhatikan,” imbuh Dadang.(dhi/c)

 

Feeds

WARGA MENOLAK SSA : Spanduk penolakan Sistem Satu Arah (SSA) yang mengatasnamakan Forum RW dan LPM Kelurahan Depok Jaya terpasang di sisi Jalan Nusantara Raya, kemarin malam. Foto : Ahmad Fachry/Radar Depok

Warga Depok Jaya Tolak Sistem Satu Arah

POJOKJABAR.com, DEPOK – Sistem satu arah (SSA) yang diujicoba Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, mulai diprotes. Keladinya, jalan searah tersebut dinilai …