Pemkab Bekasi Dorong Petani Tambak Muaragembong Beralih ke Sistem Modern

Wakil Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja saat mendampingi Menteri BUMN Rini Soemarno di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong. Foto : Humas Pemkab Bekasi for Pojoksatu

Wakil Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja saat mendampingi Menteri BUMN Rini Soemarno di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong. Foto : Humas Pemkab Bekasi for Pojoksatu

POJOKJABAR.com, BEKASI – Wakil Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja mengapresiasi penebaran 600 ribu bibit udang di Desa Pantai Bahagia oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, Selasa (17/4/2018). Apalagi dalam kurun waktu sekitar 3 bulan, udang tersebut bisa dipanen.

Namun demikian, kata Eka, perlu ada pendampingan untuk petambak. Agar sistem tambak modern dipahami oleh petani tambak khususnya di Muaragembong.

“Bantuan ini bagus. Tapi jangan hanya dana dan bibit udang. Petani tambak kita juga perlu ada pendamping. Supaya petambak tradisional menjadi petambak yang modern,” kata Eka saat mendampingi Menteri BUMN Rino Soemarno meninjau tambak udang di Desa Pantai Bahagia.

Eka berharap bantuan untuk petani tambak tidak hanya berasal dari kementerian. Tapi pihak swasta juga ikut berperan memajukan petani tambak melalui program CSR.

“Perusahaan kan punya CSR. Ya kita berharap CSR perusahaan bisa dimanfaatkan untuk membantu petani tambak. Supaya kehidupan petani tambak menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri BUMN Rini Soemarno, menyarankan agar petani tambak udang di Muaragembong beralih ke sistem tambak modern. Karena selain lebih efisien, hasilnya juga lebih maksimal.

“Kalau tradisional katanya per 2 hektare kira-kira 1,5 ton udang. Kalau menggunakan sistem modern bisa mencapai 6 ton,” katanya.

Namun untuk mendapatkan hasil maksimal tersebut, lanjut Rini, perlu diperhatikan juga sarana pendukung lainnya. Seperti saluran air yang selalu mengalir.

“Jadi dari 2 hektar ini yang jadi tambak kira-kira 8.000 meter persegi yang jadi percontohan. Dikelilingi mangrove juga dan dibuatkan selokan air. Sehingga air bisa terus diganti agar kualitasnya terjaga. Karena keasamannya harus dijaga,” ungkapnya.

Petambak di Muaragembong seringkali merugi karena tambaknya terendam banjir. Selain itu, limbah B3 yang mencemari Sungai Citarum juga ikut mengancam hasil tambak.

“Makanya kemarin itu kita keruk lagi. Karena sebelumnya kedalamannya hanya sekitar 50 sentimeter, sekarang sudah 3 meter. Kemudian dibuat selokan agar tambak tidak terkena banjir. Tapi memang tidak demikian di tempat lain. Makanya ini kita jadikan pilot. Kalau ini jalan maka kita lakukan di tempat lain,” jelasnya.

“Di sini seluruhnya (tambak) ada sekitar 1.000 hektar. Nah target kita inginnya melakukan di seluruhnya. Tapi itu perlu kerja sama dengan Kementerian PUPR dan pihak lainnya,” lanjutnya.

Optimalisasi lahan tambak di Muaragembong ini untuk pengembangan budidaya udang intensif, polikultur dan pengembangan silvofishery. Atau, integrasi budidaya ikan dengan mangrove menggunakan metode semi intensif.

Dalam pelaksanaannya, BUMN mendukung program ini dengan cara Perhutani menyediakan area tambak dan Bank Mandiri penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi petani tambak. Serta Perum Perindo sebagai off taker hasil panen.

(enr/pojoksatu)


loading...

Feeds