Kejari Bekasi Setengah Hati Tangkap Buronan Kasus Korupsi TPU Sumurbatu

Hakim menolak seluruhnya gugatan anak terhadap sang ibu di Garut (iliustrasi)

Hakim menolak seluruhnya gugatan anak terhadap sang ibu di Garut (iliustrasi)

POJOKJABAR.com, BEKASI – Buronan kasus korupsi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sumurbatu, Gatot Sutejo hingga saat ini belum juga tertangkap. Padahal, Kejaksaan Negeri (Kejari) Bekasi sudah menetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak Juni 2015 lalu. Lalu apa kabarnya sekarang?

Meskipun sudah cukup lama buron, belum ada kejelasan keberadaan aktor utama dari kasus penjualan lahan TPU Sumurbatu seluas 1,1 hektare kepada pihak swasta selaku pengembang Perumahan Bekasi Timur Regency (BTR). Padahal, dua tersangka lainnya  yakni Mantan Camat Bantargebang, Nurtani dan Mantan Lurah Sumurbatu, Sumiyati sudah mendekam di balik jeruji besi.

Hingga saat ini, Kejaksaan Negeri (Kejari) Bekasi mengaku masih berupaya melakukan pencarian terhadap Gatot. “Kita masih cari, kita juga sudah nyatakan buron kan. Kalau diketahui, pasti langsung kita tangkap,” kata Kasi Intel Kejaksaan Negeri Bekasi, Ferly Sarkowi kepada Radar Bekasi.

Ferly mengatakan kalau lembaganya sudah melakukan upaya maksimal untuk menangkap tersangka kasus korupsi tersebut. Meskipun demikian, pada kenyataannya memang belum juga tertangkap.

“Kita sudah bekerja sama dengan mencari bantuan dari berbagai pihak yang tidak perlu saya sebutkan. Tetapi memang belum ketemu,” cetusnya.

Ia bahkan menyebut, kalau pencarian pria berusia 35 tahun ini sudah menggunakan teknologi canggih dalam melacak keberadaannya. Namun, dia tidak menyebutkan secara detail alat untuk melacak buronan yang sudah merugikan keuangan negara sebesar Rp4,2 Milliar tersebut. “Sudah pakai alat canggih, kita juga sudah sadap. Tetapi memang belum diketahui,” tukasnya.

Sementara itu, sumber Radar Bekasi yang enggan dicantumkan namanya menyebutkan, kalau Gatot S saat ini sedang berada di daerah Garut, Jawa Barat. Gatot berada di sana sejak namanya dinyatakan buron oleh Kejari. “Dia ada di sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) di Garut,” beber sumber itu.

Lanjut dia, bahkan sebenarnya keberadaan Gatot di Ponpes itu sebenarnya sudah diketahui oleh pihak Kejari. Namun demikian, karena ada intervensi dari pihak yang berkepentingan, maka penangkapan belum dilakukan. “Kalau dia ditangkap, ini akan merembet ke mana-mana. Bisa sampai paling atas,” pungkasnya sembari mengatakan, Kejari setengah hati dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Sementara itu, Guru besar Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Prof. Koesparmono Irsan mengatakan, secanggih apapun suatu teknologi yang digunakan untuk mencari keberadaan buronan kasus korupsi, tergantung kepada pihak berwajib.

“Kalau manusianya tidak ada kemauan untuk menangkap, sehebat apapun teknologi sama saja,” kata mantan Kapolda Jawa Timur ini melalui sambungan selulernya.

Menurutnya, hingga saat ini belum ada alat canggih milik Kejaksaan yang bisa langsung mendetektor keberadaan sang buronan. Kecuali detektor itu dilacak melalui seluler.

Lanjut dia, untuk menangkap buronan selain menggunakan teknologi, sebenarnya mudah yakni dengan penyelidikan lebih dalam. Dia menilai, kalau serius pasti tertangkap. “Surveillance saja untuk menangkap seorang buronan itu, tidak mungkin kalau tidak ketemu,” pungkasnya. (oke)


loading...

Feeds