Mahasiswa Bekasi Tuntut Perbaikan Pendidikan Warga Bantargebang

SELAMATKAN PENDIDIKAN: Mahasiswa aksi di Kantor Pemerintah Kota Bekasi, Kamis (27/10/2016) kemarin. Dalam aksinya mahasiswa meminta Pemerintah Kota Bekasi untuk memperhatikan pendidikan anak-anak di sekitar TPST Bantargebang Kota Bekasi.FOTO:ARIESANT/RADAR BEKASI

SELAMATKAN PENDIDIKAN: Mahasiswa aksi di Kantor Pemerintah Kota Bekasi, Kamis (27/10/2016) kemarin. Dalam aksinya mahasiswa meminta Pemerintah Kota Bekasi untuk memperhatikan pendidikan anak-anak di sekitar TPST Bantargebang Kota Bekasi.FOTO:ARIESANT/RADAR BEKASI

POJOKJABAR.com, BANTARGEBANG – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, berjanji akan memberikan dana hibah sebesar Rp25 miliar kepada Pemerintah Kota Bekasi, tahun ini. Anggaran tersebut, diberikan setelah adanya penandatanganan kesepakatan kerja sama Pemkot Bekasi dan Pemprov DKI Jakarta dalam pengelolaan TPST Bantargebang.

Anggaran sebesar Rp25 miliar tersebut, diperuntukan untuk pembuatan sumur artesis bagi warga Kecamatan Bantargebang. Namun, karena sudah berada di ujung tahun, anggaran tersebut pesimis bisa diterima Pemkot Bekasi.

Kepala Bidang Fisik Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Bekasi Dadang Mulyana mengatakan, saat pihaknya sudah memasuki Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) pada tahun ini. Dia juga mengaku pesimis, jika anggaran tersebut bisa diterima.

”Tapi sampai saat ini uangnya belum di-transfer, sebab Pemprov DKI saat ini belum selasai pengesahan anggaran perubahan. Namun alokasi anggaran tersebut tidak hilang, tetap bisa kita manfaatkan tahun depan, dengan catatan kita kembali melakukan pelaporan pengajuan administrasi kepada Pemrov DKI, supaya tidak terjadi permasalahan hukum,” katanya.

Sementara itu, keberadaan sumur artesis yang ada saat ini tidak berfungsi dengan baik. Pengadaan 8 sumur artesis yang merupakan bantuan Pemprov DKI untuk tiga kelurahan yang ada di Bantargebang, yaitu Kelurahan Sumurbatu, Cikiwul, dan Ciketingudik tidak berjalan maksimal.

”Perjanjian masyarakat mendapatkan aliran air bersih melalui sumur artesis sudah ada sejak pertama kali disepakati secara G to G, namun implementasinya tidak ada,” kata operator sumur artesis RT 01 RW 05 Kelurahan Cikeutingudik Mulyadi.

Kepada Radar Bekasi dia menceritakan, sumur artesis ini yang dioperasionalkannya sudah tidak layak lagi. Kata dia, biasanya setiap tahun diperbaiki, namun saat ini sudah hampir dua tahun tidak ada perbaikan.

”Memang masih berfungsi tapi tidak maksimal, sebab jaringan pipanya sudah rusak parah dan harus diperbaharui. jadi yang biasanya bisa mengaliri seluruh warga di RW 05 namun saat ini tidak lagi warga tersaluri air bersih,” katanya.

Dirinya berharap pemerintah jangan hanya janji-janji manis tanpa ada realita. ”Sampah ini dampak negatifnya sangat luar biasa, jadi kita sebagai warga jangan terus dikorbankan dan mohon diperhatikan,” harapnya.

Semenatara itu, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Mahasiswa Bekasi Bersatu melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Pemkot Bekasi, Kamis (27/10) kemarin. Mereka menuntut adanya peningkatan kualitas pendidikan bagi masyarakat Kecamatan Bantargebang.

“Kita hanya orasi saja menyampaikan tuntutan masyarakat Bantargebang yang terkena dampak negatif sampah,” ujarnya Koordinator aksi Muhammad Rizki di sela–sela demo berlangsung.

Menurutnya, permintaan tukar sampah dengan pendidikan bukan hal yang muluk-muluk. Kata dia apabila memang pemerintah peduli bukan hal yang mustahil terjadi. ”Mereka harus bersahabat dengan bau sampah, belum lagi lingkungan yang tercemar. Kondisi ini sudah terjadi hingga 30 tahun sampai saat ini, jadi pendidikan di sana harus diutamakan, jangan sampai di lingkungan yang kotor generasi jadi bodoh karena pengaruh sampah,” harapnya.

Di tempat sama, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bekasi Deded Kusmayadi mengaku, akan mengakomodir tuntutan mahasiswa. ”Hal ini menjadi catatan kita, dan akan saya sampaikan untuk bisa diputuskan kebijakan apa yang diinginkan masyarakat Bantargebang,” singkatnya. (and)


loading...

Feeds