STIE Tribuana Bekasi Dipolisikan

Ilustrasi Penipuan.

Ilustrasi Penipuan.

POJOKJABAR.com, BEKASI – Sebanyak 70 mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Tribuana menjadi korban penipuan oknum kampus berinisial HML. Pelaku diduga menggelapkan uang perkuliahan sejak tahun 2010 – 2016 dengan total kerugian mencapai Rp270 juta.

Akibatnya, 70 mahasiswa terancam tidak memiliki ijazah setelah enam tahun menempuh proses perkuliahan. Pasalnya, data kemahasiswaan, seperti absensi mahasiswa, absen dosen, KHS, dan nilai semester sejak tahun 2010 – 2016 tidak tercantum dalam data kampus.

Puluhan mahasiswa yang merasa tertipu itu pun kemarin melaporkan kasus ini ke Polres Metro Bekasi Kota dengan nomor LP/1219/K/V/2016/SPKT/Resta Bekasi Kota dengan pelaporan penipuan, penggelapan dan pemalsuan.

Ketua Yayasan STIE Tribuana, Suroyo membenarkan kejadian tersebut. Dia mengklaim status HML bukan staf STIE Tribuana melainkan perekrut mahasiswa berstatus freeland. HML sempat membuka cabang  STIE Tribuana dan berada  di SMK Al Huda, Kecamatan Tambun Selatan sebagai kampusnya. Kemudian pada tahun 2013 HML pindah ke gedung C tanpa dikenakan biaya.

“Awalnya dia menempati gedung SMK Al Huda sebagai cabang dan 2013 pindah ke gedung C,” aku Suroyo.

Suroyo mengungkapkan 70 mahasiswa yang dibawa HML tidak masuk dalam daftar mahasiswa di STIE Tribuana yang dikelolanya. Selain itu, pihaknya juga tidak bisa mengeluarkan Ijazah karena uang perkuliahan tahun 2010 – 2016 belum masuk dalan managemen kampus.

“Mereka kan di sini statusnya numpang di gedung C. Nama-namanya juga tidak masuk dalam managemen kampus karena tidak pernah melakukan pembayaran SPP tahun 2010 – 2016,” tutur Suroyo.

Suroyo menambahkan, pihaknya melakukan musyawarah pada 11 April 2016. Dan HML harus membayarkan kewajibanya sebesar Rp279 juta. Namun,  yang terjadi justru sebaliknya, HML merasa tidak terima dengan mendatangi kampus sambil mencaci maki pihak managemen kampus.

“Udah sempat dimusyawarahkan tapi malah membuat HML naik pitam dengan mencaci maki dengan kata-kata kasar, seperti bilang akan menghancurkan kampus. Setelah itu HML menerima tuntutan mahasiswa dan membuat surat pernyataan,” ujar Suryono.

70 mahasiswa tersebut tidak masuk dalam daftar kemahasiswaan pihaknya tidak berani mengeluarkan nilai karena bisa masuk ke ranah kriminalitas. Tetapi pihaknya baru akan mengeluarkan nilai serta ijazah, bila HML membayarkan kewajibannya kepada managemen kampus.

’’HML sudah melangkah terlalu jauh, seperti saat melakukan tes skripsi kepada mahasiswa dengan mengambil staf dari kampus STIE Tribuana yang bukan pada bidangnya. Dan saat menyelenggarakan perkuliahan juga banyak terjadi kejanggalan. HML juga memalsukan kop surat, kwitansi dan stempel STIE Tribuana,’’ papar Suroyo.

Saat berlangsungnya tes skripsi di kampus yang berada di Jalan M Hasibuan, HML pernah digrebek pihak kampus karena melakukan tes skripsi kepada mahasiswa secara illegal. Sejak kejadian itulah diketahui ujian skripsi tersebut tidak sah. “Yang mengetes bukan pihak yang berkompeten. Masa orang lulusan SD disuruh menguji S1. Idealnya yang berwenang menguji ya lulusan S2,” tandasnya. (dat)


loading...

Feeds

Air merendam rumah warga di Kec. Pasaleman yang tingginya hampr menutup rumah. Foto: Bagja/pojokjabar

1.000 KK Korban Banjir Butuh Bantuan

POJOKJABAR.com, CIREBON – Lebih dari 1.000 Kepala Kelurga (KK) di Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon menjadi korban bencana banjir akibat jebolnya …