Yulianto Menggonggong, Engkus Berlalu

Engkus Prihatin (tengah)

Yulianto (tengah).

POJOKSATU.id, BEKASI – Mantan CEO Persipasi, Muhammad Kartono Yulianto kebakaran jenggot mendengar berita soal penggabungan dua klub beda kasta Liga Indonesia Persipasi dan Pelita Bandung Raya (PBR) ketika itu. Tidak hanya soal penggabungan, pemilik PT Patriot Indonesia musim kompetisi 2013-2014 ini juga sewot terkait penggunaan stadion oleh PBR.

Kepada wartawan dalam presscon-nya di sebuah rumah makan di bilangan Kranji, Yulianto membeberkan persoalan penggabungan antara Persipasi dengan PBR yang dinilainya melanggar Hukum. ”Dalam merger tersebut telah terjadi pembajakan hak atas Persipasi dan juga hilangnya hak kepemilikan publik,” terang dia seraya memaparkan Persipasi terdaftar di PT Liga Indonesia dan PSSI di bawah PT Patriot Indonesia.

Yulianto menegaskan dirinya ditunjuk sebagai penanggungjawab Persipasi setelah didorong tim penyelamat yang diketuai Rosihan Anwar ketika itu. Dan hal tersebut dipertegas lewat SK PSSI nomor Kep./022/PENGCAB/KT-BKS/2013 11 Januari 2013 setelah kondisi Persipasi mengalami kekosongan financial dan tunggakan.

Pada saat itu juga dibentuk klub professional lewat PT. Patriot Indonesia dengan akte pendirian nomor 04 12 Februari 2013 oleh notaris Mahrita Paulin Runtulalo SH, sekaligus pelepasan tanggung jawab dari ketua harian Persipasi 2012 ketika itu, yakni Aan Suhanda.
Perjalanan Persipasi musim 2013 sempat bertahan di Divisi Utama, namun di musim 2014 mulai terkendala financial sehingga terjadi penyerahan kepada Engkus Prihatin lewat pernyataan yang disaksikan CEO PT Liga Joko Driyono.

Disinggung soal isi pernyataan penyerahan kepada Engkus Prihatin tersebut, Yulianto menegaskan, bahwa munculnya surat tersebut diawali dari indikasi dari mosi tidak percaya pemain-pelatih kepada dirinya yang didorong kubu Engkus Prihatin. Kata dia, hal itu diperparah dengan tidak bisa berhomebasenya Persipasi di Stadion Patriot. Akhirnya, sambung Yulianto, dirinya mengklaim hanya menyerahkan mandat kepada Engkus untuk meneruskan perjalanan Persipasi bukan untuk membentuk badan hukum baru.

”Tentunya ini harus diluruskan, dan kita siap untuk duduk bersama dengan PBR serta manajemen Engkus untuk meluruskan posisi yang sebenarnya. Jangan sampai di kemudian hari terjadi multi tafsir yang menjadikan seakan-akan Yulianto ikut bertanggungjawab dalam masalah Persipasi,” tegas dia berkelit.

Yulianto juga mengaku ingin membangun Persipasi meski harus tampil di Liga Nusantara, yang dinilainya kala itu Engkus gagal meneruskan perjalanan Persipasi.
”Karena Persipasi yang sebenarnya ada di Liga Nusantara setelah terdegradasi, Persipasi yang milik orang Bekasi akan kami bangun kembali. Persipasi yang sebenarnya adalah Persipasi yang ada di Liga Nusantara,” cetusnya.

Dirinya juga mengkritisi Persipasi yang membeli 55 Persen saham PBR, dirinya beralasan seharusnya diselesaikan dahulu masalah di Persipasi. ”Jangan sampai hanya karena kebanggan yang sesaat mengorbankan sejarah yang bertahun-tahun sudah dibangun, ini jadi euforia-nya euforia sesaat,” terang Yulianto seraya menakuti akan menindak lanjuti persoalan ini ke Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI).

Terpisah, Presiden PBR, Engkus Prihatin mengaku ogah mengambil pusing dengan celoteh kosongnya Yulianto. Engkus pun menyarankan Yulianto untuk memperjelas persoalan tersebut dengan mengkroscek langsung ke PT Liga Indonesia terkait persoalan Persipasi. ”Untuk lebih jelasnya tanyakan langsung aja ke PT Liga Indonesia tentang keberadaan Persipasi saat ini. Percuma saja dia cuap-cuap sana sini tidak akan ada yang mendengarkan,” tandas Engkus singkat melalui pesannya kepada Radar Bekasi kemarin. (one)

Feeds