Baru H-4 Lebaran, Sudah 40 Pemudik Meninggal di Jalur Mudik Jabar

SESAK: Pemudik sepeda motor melintas di Jalan Bandung-Garut pada H-1 Jelang Idulfitri di Kabupaten Bandung, Tahun lalu. RIANA SETIAWAN/RADAR BANDUNG

SESAK: Pemudik sepeda motor melintas di Jalan Bandung-Garut pada H-1 Jelang Idulfitri di Kabupaten Bandung, Tahun lalu. RIANA SETIAWAN/RADAR BANDUNG

POJOKJABAR.com, BANDUNG – H-4 Lebaran, tercatat 163 kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jalur mudik Jawa Barat. Sebanyak 40 orang meninggal dunia, 42 orang luka berat, 213 luka ringan dan kerugian materil mencapai kurang lebih Rp 280 juta.

Kabid Humas Kepolisian Daerah Jawa Barat (PoldaJabar), Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan, data tersebut berdasarkan laporan petugas polisi di posko yang tersebar di beberapa titik wilayah Jawa Barat.

Ia memaparkan perinciannnya dari jumlah kecelakaan yang mencapai 163 kecelakaan itu, jumlah korban meninggal dunia naik menjadi 40 orang, sedangkan tahun lalu hanya berjumlah 17 orang.

Untuk korban yang mengalami luka berat juga mengalami kenaikan sebanyak 42 orang, sedangkan di tahun sebelumnya hanya mencapai 36 orang.

Lalu, kemudian untuk korban luka ringan tahun ini mengalami penurunan menjadi 213 orang, sedangkan tahun sebelumnya berjumlah 249 orang. Penurunan pun nampak dari kerugian materil yang sekarang Rp 280juta, tahun sebelumnya mencapai Rp 508juta.

“Meskipun demikian, jumlah kejadian tahun 2018 ini presentasenya menurun 14 persen dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 189 kecelakaan,” ungkapTrunoyudo kepada Radar Bandung (Pojoksatu.id Grup) , di MarkasPoldaJabar, Jalan Soekarno-Hatta,Kota Bandung, Senin (11/6).

Disamping itu, Trunoyudo menjelaskan, tercatat sebanyak 171.000 pemudik telah meninggalkan Gerbang Tol Cikarang Utama menuju sejumlah daerah di Jawa Tengah.

“Dari data Dinas Perhubungan Jawa Barat dan juga laporan dari Dinas Perhubungan Jawa Tengah, sampai dengan Senin (16/6) sore hari, yang meninggalkan Gardu Tol Cikarang Utama, jumlahnya sudah mencapai sekitar 171.000 kendaraan,” paparnya.

Dari data tersebut, Trunoyudo memprediksi puncak arus mudik masih akan terjadi.

“H-4 dan H-3 masih padat, baru mulai menurun H-2 sampai H-1 sepertinya, ” terang dia.

Untuk saat ini, sambung dia, pihaknya belum memberlakukan sistem contra flow untuk mengurai kepadatan lalu lintas.

“Contra flow Itu fleksibel, kalau macetnya sudah melebihi lima kilometer baru kita contra flow. Kalau tidak, tidak usah, karena membahayakan, itu kan sistemnya jadi melawan arus atau bias satu arah,” tandas dia.

(RBD/gum/pojokjabar)


loading...

Feeds