Quota Tenaga Kerja Indonesia ke Jepang Belum Ideal

Ratusan peserta calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ketika sedang melakukan tes fisik pemagangan ke Jepang di Lapangan Sabuga

Ratusan peserta calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ketika sedang melakukan tes fisik pemagangan ke Jepang di Lapangan Sabuga

POJOKJABAR.co, BANDUNG – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat melakukan verifikasi sebanyak 194 peserta Jawa Barat dan 124 peserta nasional, yang akan dipilih untuk dikirim bekerja ke Jepang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat, Ferry Sofwan menjelaskan, semua calon peserta magang harus menempuh berbagai tes. Di antaranya tes matematika dan tes fisik. Tes secara ketat, dilakukan pada semua peserta magang ke Jepang untuk melihat riwayat kesehatannya.

Bahkan, kondisi fisik pun dilihat secara keseluruhan tak ada bekas tato, tindik, dan tak boleh ada panu.

“Jadi ketat, tak ada masalah kesehatan saat bekerja,” katanya.” kata Ferry di acara Tes Fisik Pelaksanaan Seleksi Calon Peserta Pemagangan ke Jepang, Rabu (17/5).

Meskipun, lanjutnya, jumlah peserta magang ke Jepang selalu bertambah setiap tahunnya, tetap belum bisa memenuhi quota kebutuhan industri di Jepang

“Setiap tahunPemprov Jabar rata-rata mengirim 100 orang peserta magang. Minat calon peserta magang, dari tahun ke tahun mengalami meningkat. Tahun ini, peserta yang mengikuti tes awal administrasi ada 720 orang. Jumlah peserta pemagangan dari Jabar yang sudah dikirim ke Jepang sebanyak 3.434 orang. Gaji yang akan mereka terima tahun pertama 80 ribu yen, kedua 90 ribu dan 100 ribu yen,” katanya.

Ferry mengatakan, jenis usaha yang dapat diisi oleh peserta pemagangan ke Jepang adalah perusahaan sedang dan menengah di seluruh wilayah Jepang. Meliputi sekitar 61 jenis kerja.

Saat ini, jumlah Sending Organization (SO) dari Jawa Barat untuk ke Jepang sebanyak 37 lembaga.

“Jumlah peserta yang sudah dikirim melalui Sending Organization dari Jawa Barat berjumlah 570 orang,” katanya.

Selain Tenaga Kerja Indonesia asal Jawa Barat untuk bekerja ke ke Jepang, jumlah TKI Taiwan juga terus meningkat.

“Pada 2016, dari 51 ribu TKI asal Jabar yang bekerja di luar negeri, sebanyak 23 ribu bekerja ke Taiwan. Sejak 2015 ada moratorium TKI ke Timur Tengah, fokus para calon TKI asal Jabar bekerja ke Asia Pasifik, terutama ke Taiwan,” kata Ferry.

Menurut Ferry, selain ke Taiwan negara yang tinggi peminat TKI-nya adalah Singapura, Hongkong, dan Korea Selatan. Negara ini menjadi favorit karena setelah moratorium timur tengah calon TKI banyak yang memilih majikan. Mereka akan memilih negara yang banyak majikannya memperlakukan TKI setara.

Selain itu, di Taiwan biaya hidupnya tak terlalu mahal. Pengeluaran per bulan TKI hanya 25 persen saja. Sisanya, sekitar 75 persen bisa ditabung oleh TKI. Jadi, mereka bisa membawa uang lebih banyak saat pulang ke Indonesia.

“TKI yang bekerja di Taiwan banyak yang bergerak informal. Mereka bekerja mengurus jompo atau jadi asisten rumah tangga, ada juga yang bekerja di industri,” kata Ferry seraya mengatakan Taiwan memberikan banyak kemudahan pada TKI jadi sangat diminati.

Selain ke Taiwan, kata Ferry, Pemprov Jabar memiliki program pemagangan ke Jepang yang diselenggarakan atas kerja sama antara Kementerian Ketenagakerjaan RI dengan IM Japan (Pogram G to G ). Program ini sudah dilaksanakan sejak 1999 sampai sekarang.

(peh)



loading...

Feeds

SIDANG LANJUTAN PANDAWA: Salman Nuryanto, terdakwa pemimpin Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa bertemu pendukungnys usai menjalani sidang dalam agenda pemaparan saksi ahli dari JPU di Pengadilan Negeri Depok, senin (23/10/17). Ahmad Fachry/Radar Depok

Koperasi Pandawa Group Siapkan 165 Saksi

POJOKJABAR.com, DEPOK – Sidang kasus penipuan dan penggelapan investasi fiktif Pandawa Group terus bergulir. Senin (23/101/17), di sidang ke-16 Jaksa …