Darmilah, Warga Cimahi Penjual Lotek Ini Tewas Mengenaskan

Jasad Ilah penuh dengan luka tusukan. Korban warga Cibabat, Kota Cimahi ini tewas dibunuh.

Jasad Ilah penuh dengan luka tusukan. Korban warga Cibabat, Kota Cimahi ini tewas dibunuh.

POJOKJABAR.com, CIMAHI – Tangis Ahmad Junaedi (32) pecah. Kesedihan yang ia rasakan ditumpahkan dengan jeritan sekeras-kerasnya. Langit mendung yang menggelayut di langit Kota Cimahi pada Rabu (2/11/2016) kemarin, seakan menggambarkan betapa sakit perasaannya.

Bagaimana tidak, ibunda tercintanya, Ilah Darmilah (56) meninggal dengan cara yang mengenaskan. Tubuhnya bersimbah darah dengan tujuh luka tusuk mengangga di perut dan enam luka tusuk di kepalanya.

Peristiwa menyedihkan itu terjadi di rumahnya yang beralamat di Gang Kananga RT 02/RW 03 Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara.

“Saya tidak menyangka ibu pergi dengan cara seperti ini,” ujarnya parau.

Ilah merupakan janda dengan tiga orang anak. Di sebuah rumah sederhana, Ilah tinggal bersama kedua anaknya, yaitu Ahmad Junaedi (32) dan Renny Supartinny (28). Sedangkan anak pertamanya, Engkom (36) tinggal bersama suaminya di Cisarua, Lembang.

Setiap hari, Ahmadlah yang membantu Ilah mengumpulkan pundi-pundi Rupiah dengan cara berjualan lotek dan gorengan di depan gang yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumahnya.

Ahmad mendapat jadwal berjualan dari pukul 07.00 – 10.00 WIB. Setelahnya, giliran Ilah lah yang bertugas melayani pelanggan lotek hingga sore hari.

Namun, kemarin hingga pukul 10.30 WIB, ibunya tak kunjung datang untuk menggantikan Ahmad berjualan. Perasaan semacam khawatir menghinggapi Ahmad, yang kemudian meninggalkan dagangannya untuk memastikan keberadaan sang bunda.

“Saya pergi ke rumah, mengecek kemana ibu. Saya pikir masih beres-beres. Tapi pas saya mau masuk, pintu depan dan belakang dikunci,” katanya dengan suara parau.

Ahmad pun sempat bertanya kepada tetangga perihal keberadaan ibunya, namun tak ada jawaban. Karena khawatir, ia pun memberanikan diri untuk masuk ke rumah melalui atap di dekat pintu bagian belakang dengan menggunakan tangga bambu.

Entah kebetulan atau tidak, tangga bambu yang dipijaknya sudah rapuh dan membuat Ahmad jatuh bersama material bambu dari tangga menimpa pintu belakang.

“Secara ga sengaja pintu belakang yang tadinya terkunci, terbuka seperti didobrak karena bambunya menimpa langsung pintu,” ia mengisahkan.

Setelah pintu terbuka, Ahmad melihat pemandangan mengerikan sekaligus menyesakkan dadanya. Ibunya bersimbah darah, penuh luka tusuk dan terbujur kaku di dapur yang berukuran 2×3.

Perasaan Ahmad serasa dicampur aduk. Dadanya sakit seperti dihunus pedang, amarahnya memuncak, kesedihannya tak bisa ditahan. Ia berteriak dan tangisnya pecah mengundang reaksi tetangganya.

Ia tak percaya perempuan yang ia cintai pergi dengan cara mengenaskan. Kesedihan pun turut dirasakan tetangga yang saat proses olah TKP menyemut di dekat rumah korban.

Wanita yang ramah dan dekat tetangga itu kini sudah pergi. Kepergian Ilah diiringi dengan isak tangis sedih dari orang yang mencintainya. Mungkin juga air mata itu keluar dari rasa geram kepada pelaku yang masih bebas berkeliaran dengan membawa perhiasan berupa cincin, kalung dan anting emas milik Ilah. (bbb)


loading...

Feeds