Jadi Langganan Banjir, Katanya Bandung Segera “Tenggelam”

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKJABAR.com, BANDUNG – Hujan yang melanda Kota Bandung beberapa hari lalu menyebabkan banjir besar di beberapa kawasan, salah satunya di kawasan Ujungberung dan Gedebage. Dua kawasan tersebut juga dikenal sebagai langganan banjir jika hujan turun deras.

Adapun solusi yang diusahakan oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil dengan membuat tiga tanki air raksasa nyatanya tidak memberikan dampak apa-apa. Kawasan Gedebage dan Cibiru tetap terendam air yang tingginya mencapai pinggang orang dewasa itu.

Salah satu penggiat sungai, Yadi Supriadi, menanggapi kasus banjir di Bandung jika tidak cepat ditangani akan membuat Bandung tenggelam. Ia mengatakan persoalan banjir di Gedebage dan beberapa daerah lainnya sudah menjadi persoalan lama yang tidak kunjung dituntaskan.

Yadi menjelaskan, pemerintah masih kurang perhatian terhadap saluran air dan sungai yang menjadi infrastruktur utama di suatu kota. Ia melihat pemerintah lebih cenderung memperhatikan fasilitas yang tidak terlalu berdampak.

“ Ini persoalan sudah lama, pemerintah itu tidak memperhatikan persoalan utamanya. Harusnya yang lebih diperhatikan itu adalah saluran air dan sungai. Sampai saat ini infrastruktur yang sudah dibenahi pun belum memenuhi kaidah alam,” jelas Yadi saat dihubungi, Minggu (30/10/2016).

Ia juga mengatakan adapun tol air yang dibuat pun belum optimal dan kurang dalam perhitungannya. Kekurangan lainnya, pemerintah tidak melibatkan masyarakat dalam penanggulangan dan pemeliharan infrastuktur tersebut.

“Tol air itu bagus, tapi harus dilihat juga hilir dan anak sungainya, memenuhi atau dapat menampung tidak, ini kan yang terjadi malah sebaliknya. Hilir tidak dapat menampung jumlah air yang banyak,” tambahnya.

Yadi menilai faktor utama terjadinya banjir yaitu anak sungai yang penuh dengan sampah yang mengakibatkan penyempitan sehingga buangan air hujan tidak mengalir, akhirnya tertampung di jalan dan masuk ke pemukiman warga seperti yang terjadi di Pasteur, Cibadak, pagarsih dan Gedebage.

Bersama teman-temannya, Yadi pun telah melakukan patroli sungai dan evakuasi darurat di beberapa kawasan banjir tersebut. Dari hasil patrol tersebut, ia mengaatakan konteks sungai dan saluran air itu harus sejalan dengan kaidah alam dan letak daerah di saluran yang dilalui air.

“ Kalau begini terus, Bandung siap-siap saja tenggelam, pasalnya satu kawasan dibenahi, berdampak ke yang lain. Sejauh ini saya lihat semua pusatnya itu masih di Muara Citarum, parahnya di Baleendah, Gedebage itu masih termasuk kiriman tapi bisa meluap karena sampah yang menumpuk,” tutur Yadi.

Ke depannya Yadi berharap, pemerintah jangan hanya sekedar membenahi daerah perkotaan yang tidak terlalu harus dibenahi. Ia berharap adanya tindakan cepat dari pemerintah dalam menanggani bencana banjir yang selalu terjadi di kota kembang tersebut.

“Saya berharap pemerintah bertindah lebih tepat dan cepat, hampir delapan tahun saya berkecimpung menangani persoalan banjir dan membantu membenahi sungai, tapi belum ada juga solusi yang tepat,” tutur Yadi yang merupakan Sekjen di Komunitas Sungai Cikapundung itu. (raj)


loading...

Feeds

Gempita Nusantara

Unjuk Busana Daerah pada Gempita Nusantara

GRAND Metropolitan Bekasi menggelar acara yang didukung Kementerian Pariwisata Republik Indonesia bertajuk Gempita Nusantara, Hal tersebut disampaikan oleh General Manager …