POJOKJABAR.com, Bandung – Angklung bukan sekadar alat musik tradisional. Di balik alunan bambunya, tersimpan nilai kebersamaan, disiplin, tanggung jawab, saling menghormati, hingga harmoni yang masih relevan untuk dikenalkan kepada generasi muda.
Sebagai salah satu kekayaan budaya Sunda, angklung telah ditetapkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan sejak 2010.
Upaya mengenalkan sekaligus melestarikan budaya tersebut dilakukan PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Fuel Terminal (FT) Bandung.
Perusahaan menggelar Pelatihan Angklung dan Kuliner Tradisional Sunda di Kampung CSV Udjo Ecoland, Kabupaten Bandung, Kamis (20/8).
Kegiatan ini menjadi bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Kampung CSV Udjo Ecoland yang bertujuan mendorong pelestarian budaya sekaligus mengembangkan potensi masyarakat setempat.
Sebanyak 48 siswa SMA Negeri 1 Cimenyan, Kabupaten Bandung, turut ambil bagian dalam pelatihan tersebut.
Mereka belajar langsung memainkan angklung bersama masyarakat, sekaligus mengenal proses pengolahan kuliner tradisional Sunda.
Kegiatan ini turut dihadiri Fuel Terminal Manager Bandung Afifah Rahmawati, Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Cimenyan Kamal, serta Ketua Kelompok Kampung CSV Udjo Ecoland Satria Akbar.
Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Cimenyan, Kamal, menilai keterlibatan siswa dalam kegiatan budaya memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran di dalam kelas.
“Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung bagi siswa untuk mengenal dan mempraktikkan budaya Sunda. Mereka menjadi lebih antusias karena dapat belajar di luar ruang kelas sekaligus memahami bahwa budaya daerah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Kamal.
Dalam pelaksanaannya, FT Bandung menggandeng Saung Angklung Udjo sebagai mitra dalam pelestarian dan pengembangan seni angklung.
Tak hanya belajar memainkan alat musik tradisional, peserta juga mengikuti pelatihan kuliner Sunda.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mengolah peuyeum dan cincau dengan memanfaatkan Bright Gas sebagai salah satu penerapan konsep Creating Shared Value (CSV) dalam aktivitas masyarakat.
Ketua Kelompok Kampung CSV Udjo Ecoland, Satria Akbar, berharap keterampilan yang diperoleh dari pelatihan tersebut dapat terus diterapkan dan dikembangkan.
“Kami berharap keterampilan yang diperoleh dapat terus dipraktikkan oleh masyarakat, baik melalui kegiatan angklung maupun pengembangan kuliner tradisional. Ke depan, kami ingin potensi tersebut dapat menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sekaligus memberikan nilai tambah bagi kampung,” ujar Satria.
Menurutnya, pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan berkembang menjadi bagian dari aktivitas masyarakat dan membuka peluang pengembangan potensi lokal.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Jawa Bagian Barat PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto, mengatakan pelestarian budaya menjadi bagian dari upaya perusahaan menghadirkan program TJSL yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan potensi lokal.
“Kami ingin pelestarian budaya berjalan beriringan dengan pengembangan potensi masyarakat. Harapannya, kegiatan seperti ini tidak hanya menjaga warisan budaya Sunda, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk terus belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi lokal,” ujar Reno.
Melalui program Kampung CSV Udjo Ecoland, Pertamina Patra Niaga Regional JBB mendorong pelestarian budaya tidak hanya sebagai upaya menjaga tradisi, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan kapasitas masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang pendidikan berkualitas, tujuan kedelapan mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta tujuan ke-11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan.***